diskominfo
BJB FEBRUARI 2026

Hidup di Bawah Bayang-Bayang Sampah, Antara Dampak Lingkungan dan Kebutuhan Hidup

Hidup di Bawah Bayang-Bayang Sampah, Antara Dampak Lingkungan dan Kebutuhan Hidup

Kondisi TPAS Cilowong dilihat dari atas dekat pemukiman warga. (ALDI ALPIAN INDRATANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Langit siang di Kampung Pasir Gadung Wadas tampak biasa saja. Namun, semakin mendekat ke kawasan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, udara perlahan berubah. Bau menyengat menusuk hidung, bercampur antara sampah basah dan tanah lembap sisa hujan semalam. 

Truk-truk pengangkut sampah berlalu-lalang, meninggalkan jejak suara mesin yang sudah menjadi irama harian bagi warga di sekitarnya.

Di sinilah warga hidup berdampingan dengan gunungan sampah yang terus tumbuh dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat Kampung Pasir Gadung Wadas, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, bau sampah bukan lagi kejutan. Ia telah menjadi bagian dari rutinitas, terutama saat musim hujan tiba. Air yang mengalir dari timbunan sampah membawa aroma lebih tajam, menyebar hingga ke rumah-rumah warga.

“Kalau hujan deras, baunya makin parah. Sampai ke dalam rumah,” ujar seorang warga yang rumahnya berjarak hanya beberapa ratus meter dari TPAS Cilowong, Minggu (18/1). Ia memilih tak disebutkan namanya.

Kondisi tersebut, katanya, sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan jauh sebelum wacana kerja sama pengelolaan sampah antara Pemerintah Kota Serang dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencuat ke permukaan. Bau menyengat, lalat, hingga kekhawatiran pencemaran lingkungan sudah lebih dulu dirasakan warga.

Tak hanya soal bau. Warga juga harus berhadapan dengan dampak yang lebih sunyi namun memukul kehidupan ekonomi mereka: air lindi.

Di sekitar TPAS Cilowong, hamparan sawah membentang. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun, air lindi yang merembes dan mengalir ke area persawahan kerap merusak tanaman padi.

“Kadang sampai gagal panen. Padinya jadi hitam, nggak bagus, nggak laku dijual,” katanya lirih. Akibatnya, tak sedikit warga yang akhirnya memilih menjual lahan pertanian mereka.

Di tengah kondisi itu, kabar rencana kerja sama pengelolaan sampah antara Pemkot Serang dan Pemkot Tangsel sampai ke telinga warga. Sosialisasi, menurut warga, telah dilakukan melalui musyawarah di musala kampung.

Menariknya, meski sadar risiko bertambahnya volume sampah, sebagian warga justru memilih bersikap terbuka. Bukan tanpa alasan. Harapan akan adanya lapangan kerja menjadi pertimbangan utama.

“Kalau bau, pasti nambah bau. Tapi warga di sini banyak yang setuju, soalnya katanya bakal ada kerjaan buat warga sekitar,” ucapnya.

Kebutuhan hidup sering kali memaksa warga berdamai dengan kenyataan. Di kawasan sekitar TPAS, persoalan ekonomi menjadi cerita yang tak kalah berat. Lapangan kerja terbatas, penghasilan tak menentu, hingga anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.

“Di sini banyak yang susah cari kerja. Ada juga anak-anak yang nggak sekolah karena nggak punya biaya,” katanya.

Harapan mereka sederhana: jika sampah terus datang, maka perhatian pemerintah juga harus ikut hadir. Bukan hanya pada pengelolaan teknis, tetapi juga pada kehidupan sosial dan lingkungan warga. “Kalau memang jadi, jangan cuma sampahnya aja yang masuk. Warganya juga harus diperhatiin,” pungkasnya. 

Sumber: