Pemkab Tangerang Bersiap Hadapi Kemarau
BPBD Kabupaten Tangerang salurkan air bersih saat kekeringan musim kemarau.--
TANGERANGEKSPRES.ID, CURUG — Pemkab Tangerang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal.
Sejumlah sektor dinilai rentan terdampak kekeringan, terutama wilayah pertanian di bagian utara Kabupaten Tangerang serta kawasan permukiman yang tersebar di berbagai kecamatan.
"Wilayah utara Tangerang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian lebih rentan terkena dampak kekeringan. Ketika kemarau berlangsung panjang, ketersediaan air untuk lahan pertanian menjadi tantangan utama bagi para petani," jelas Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Ahmad Taufik, Kamis (5/3).
Lanjutnya, pemerintah daerah menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini agar tidak berdampak pada produksi pangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memastikan infrastruktur irigasi tetap berfungsi optimal.
"Perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi menjadi tanggung jawab Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA). Saluran irigasi yang mengalami kerusakan akan diperbaiki agar suplai air ke area persawahan tetap terjaga selama musim kemarau," jelasnya.
Kata Taufik, kawasan perumahan juga menjadi perhatian karena penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang. Saat kemarau panjang, potensi kekurangan air bersih di kawasan permukiman kerap meningkat.
"Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah daerah menyiapkan distribusi air bersih melalui kerja sama sejumlah perangkat daerah. Penyediaan air bersih akan melibatkan Perumda Air Minum (PDAM), Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman (Perkim) dan tentu saja dari kita juga," jelasnya.
Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru memperingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dari biasanya. Dalam prakiraan awal musim kemarau yang disampaikan, BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki periode kemarau sejak April 2026.
Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari lalu dan bergesernya kondisi iklim global menuju fase netral, dengan peluang berkembang menjadi El Niño pada pertengahan tahun.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, perubahan dinamika iklim global tersebut berpotensi memengaruhi pola musim di Indonesia. Saat ini indeks ENSO tercatat berada di angka -0,28 atau fase netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
"Namun pada semester kedua tahun ini terdapat peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat dengan probabilitas sekitar 50 hingga 60 persen," katanya melalui siaran tertulis yang diterima Tangerang Ekspres, Kamis (3/3).
Kata dia, BMKG mencatat sekitar 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April. Wilayah tersebut antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Pada Mei, jumlah wilayah yang masuk musim kemarau diprediksi meningkat menjadi 184 zona musim atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia. Kemudian pada Juni menyusul sekitar 163 zona musim lainnya.
Secara keseluruhan, hampir setengah wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya. BMKG mencatat sebanyak 325 zona musim atau sekitar 46,5 persen wilayah akan mengalami kemarau lebih awal, sementara sebagian wilayah lainnya diperkirakan tetap sesuai pola normal.
Puncak musim kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Pada periode tersebut kondisi kering diperkirakan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, serta wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Sementara itu, beberapa wilayah lain diperkirakan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, sedangkan sebagian wilayah seperti Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa daerah di Maluku serta Papua diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.
"Sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau dengan curah hujan di bawah rata-rata, sementara sekitar 35 persen wilayah lainnya berada pada kondisi normal. Durasi musim kemarau juga diperkirakan lebih panjang di lebih dari separuh wilayah Indonesia," katanya.
Lanjutnya, ia mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan. (sep)
Sumber:

