diskominfo
BJB FEBRUARI 2026

Produksi Kue Satu Meningkat Jelang Lebaran

Produksi Kue Satu Meningkat Jelang Lebaran

Warga menjemur adonan kue satu berbahan dasar kacang hijau di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. (ALDI ALPIAN INDRA/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Produksi kue satu di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kampung tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi kue satu di Kota Serang.

Sejumlah warga mulai memproduksi kue berbahan dasar kacang hijau itu untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat selama Ramadan. Di beberapa rumah, nampan berisi adonan kue terlihat dijemur di halaman rumah, sementara proses penggilingan kacang hijau dilakukan di dalam rumah.

Pemilik usaha rumahan Cahaya Amah, Faikoh, mengatakan dalam sehari ia mampu mengolah sekitar satu karung kacang hijau sebagai bahan baku pembuatan kue satu. Dari satu karung tersebut biasanya dihasilkan sekitar 25 kilogram adonan.

“Sehari paling satu karung kacang hijau. Tapi itu juga tergantung cuaca. Kalau panas terik cepat kering, kalau hujan biasanya kita pakai oven,” kata Faikoh, Kamis (5/3).

Ia menjelaskan, proses pengeringan menjadi tahapan penting dalam pembuatan kue satu. Adonan yang telah dicetak harus benar-benar kering agar teksturnya tetap halus dan tidak mudah hancur saat dikemas.

Menurut Faikoh, produksi kue satu biasanya sudah mulai ditingkatkan sejak sebelum Ramadan untuk menyiapkan stok. Memasuki pertengahan bulan puasa, jumlah pesanan biasanya meningkat.

“Biasanya sebelum puasa sudah mulai bikin stok. Nanti masuk tang­gal 10 Ramadan pesanan makin banyak dan mulai kirim ke toko-toko,” ujarnya.

Proses pembuatan kue satu membutuhkan waktu sekitar dua hari. Pada hari pertama, kacang hijau digiling hingga halus, dicampur gula, kemudi­an dicetak dan dijemur atau dioven. Setelah kering, kue tersebut dikemas pada hari berikutnya untuk dipasarkan.

Selain kue satu, usaha Caha­ya Amah juga mem­produksi penganan tradisional lain seperti sagon dan gipang. Saat per­mintaan meningkat men­jelang Lebaran, usaha tersebut melibatkan hingga delapan pekerja untuk membantu proses produksi.

Salah satu pekerja, Urfiah, mengatakan pengiriman kue bisa mencapai puluhan dus dalam sekali pengiriman pada masa ramai menjelang Le­baran. “Kalau jelang Lebaran bisa kirim sampai 25 dus sekali kirim. Satu dus isinya 12,” katanya.

Kue satu produksi Kampung Magelaran Cilik dipasarkan ke sejumlah wilayah di Banten, seperti Serang, Cilegon, hingga Merak. Produk tersebut dijual dalam kemasan toples dengan harga sekitar Rp10 ribu per toples untuk pemasok toko.

Di tengah maraknya kue modern, kue satu tetap menjadi salah satu sajian khas yang banyak dicari masyarakat saat Lebaran. Selain itu, produksi kue satu juga menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga di kampung tersebut. (ald)

Sumber: