BJB NOVEMBER 2025

Awal Tahun, Kota Serang Dapat 'Kado' Sampah dari Tangsel

Awal Tahun, Kota Serang Dapat 'Kado' Sampah dari Tangsel

10 truk sampah dari Tangsel mulai melakukan pengiriman sampah ke TPA Cilowong, Kota Serang, pada Kamis (1/1) malam hari. (ALDI ALPIAN INDRA/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Sampah, jadi kado awal tahun 2026 Pemkot Serang. Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) mulai mengirim sampah pada Kamis (1/1) malam hari ke Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong, Kota Serang. 

Pengiriman perdana sebagai bagian dari pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengelolaan sampah antar daerah yang telah disepakati oleh kedua pemerintah daerah. Tahap awal ini dilakukan dalam skema uji coba dengan pengawalan dan pengawasan ketat, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Wali Kota Serang Budi Rustandi turun langsung ke lapangan untuk mengawal pengiriman perdana tersebut. Sebanyak 10 unit truk sampah dari Kota Tangsel diberangkatkan menuju TPA Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, dengan melalui sejumlah titik pengecekan yang telah ditentukan sesuai ketentuan dalam PKS.

Pengawalan dimulai dari rest area sebagai titik awal pemeriksaan armada. Di lokasi tersebut, Wali Kota Serang bersama Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pembangunan dan Investasi dan UPT persampahan dari Kota Tangerang Selatan memastikan seluruh kendaraan pengangkut sampah memenuhi persyaratan teknis, mulai dari kondisi armada hingga standar operasional pengangkutan.

“Pada malam hari ini saya bersama Ketua Satgas dan UPT persampahan dari Tangerang Selatan melakukan pengecekan langsung. Hari ini merupakan pengiriman perdana sampah dari Tangerang Selatan ke Kota Serang,” ujar Budi Rustandi.

Ia menegaskan, pengecekan di rest area dilakukan untuk memastikan seluruh armada benar-benar sesuai dengan kesepakatan dalam PKS yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.

“Saya tadi memulai pengecekan dari rest area, untuk memastikan bahwa truk-truk pengangkut sampah yang datang benar-benar sesuai dengan kesepakatan dalam PKS. Alhamdulillah, seluruh armada yang digunakan adalah truk baru dan sesuai standar,” katanya.

Setelah itu, rombongan melanjutkan pengecekan di titik kedua, yakni di wilayah Jakung, Kecamatan Taktakan. Di lokasi ini, pengawasan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat, khususnya Paguyuban Jakung Bersatu. Warga turut mencatat identitas sopir, nomor kendaraan, serta memastikan seluruh prosedur dijalankan sesuai ketentuan.

“Selanjutnya, kami melakukan pengecekan di titik kedua, yaitu di wilayah Jakung. Di lokasi ini, proses pengecekan juga melibatkan masyarakat, khususnya dari Paguyuban Jakung Bersatu. Mereka mencatat nama sopir, nomor kendaraan, dan memastikan semuanya sesuai prosedur,” jelas Budi.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat merupakan bentuk kolaborasi sekaligus transparansi dalam pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah lintas daerah. “Ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat ikut mengawasi langsung, dan ini adalah bentuk dukungan terhadap kebijakan yang saya ambil sebagai Wali Kota,” tegasnya.

Budi menambahkan, kehadirannya langsung di lapangan merupakan bentuk tanggung jawab penuh sebagai kepala daerah atas kebijakan yang diambil, terlebih kerja sama ini berkaitan dengan rencana besar pengelolaan sampah jangka panjang di Kota Serang.

“Saya turun langsung ke lapangan karena saya bertanggung jawab penuh terhadap kebijakan ini. Ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan Program Strategis Nasional (PSN), yang insyaallah akan mulai dibangun pada Agustus 2026, berupa pengolahan sampah menjadi energi listrik,” ujarnya.

Ia berharap pengiriman perdana ini menjadi awal yang baik dan berjalan lancar tanpa hambatan.

“Mudah-mudahan program ini berjalan lancar dan menjadi sejarah baru bagi Kota Serang. Saya mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar program ini sukses,” imbuhnya.

Terkait evaluasi di lapangan, Budi mengakui masih terdapat sejumlah catatan, salah satunya mengenai kapasitas penampungan air lindi pada armada pengangkut.

“Saat ini kapasitas penampungan air lindi masih sekitar 4 liter, dan ke depan akan kita tingkatkan menjadi 8 liter agar tidak terjadi tetesan di jalan. Memang masih ada kekurangan, tetapi itu wajar dalam tahap awal. Yang penting, semuanya terus kita perbaiki secara bertahap,” katanya.

Selain itu, Budi juga menanggapi kekhawatiran warga terkait kualitas air di sekitar TPA Cilowong. Menurutnya, masukan tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi selama masa uji coba.

“Dalam masa uji coba selama enam hari ini akan kami evaluasi bersama masyarakat. Ke depan, pada tahun 2026, kami akan memasukkan perencanaan penyediaan air bersih dalam dokumen perencanaan. Ini akan menjadi bagian dari kesepakatan baru jika kerja sama dengan Tangerang Selatan diperpanjang,” jelasnya.

Dari sisi pembiayaan, kerja sama ini didukung oleh dasar hukum berupa PKS antar pemerintah daerah yang mengacu pada ketentuan perundang-undangan tentang pengelolaan sampah, kerja sama daerah, serta retribusi pelayanan persampahan. Nilai kerja sama tersebut mencakup bantuan keuangan dan retribusi.

“Untuk nilai kerja sama, total bantuan keuangan mencapai sekitar Rp65 miliar. Dana ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur di TPA Cilowong, dengan estimasi penyelesaian sekitar 80 persen. Selain itu, terdapat pula dana retribusi sekitar Rp57 miliar, yang juga digunakan untuk mendukung pengelolaan TPA Cilowong dan wilayah Kecamatan Taktakan,” ungkap Budi.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Jakung Bersatu, Ansori, mengatakan masyarakat berperan sebagai jembatan komunikasi antara warga dan pemerintah dalam pelaksanaan kerja sama ini.

“Terkait pengiriman sampah dari Tangerang Selatan, kami sebagai masyarakat pada dasarnya berperan sebagai jembatan komunikasi. Artinya, kami menampung aspirasi warga dan menyampaikannya kepada pemerintah,” ujar Ansori.

Ia menegaskan, kesepakatan ini berlaku untuk seluruh wilayah Kecamatan Taktakan, bukan hanya Kelurahan Cilowong, dan telah disepakati masa uji coba selama tujuh hari.

“Jika dalam masa uji coba itu ditemukan hal-hal yang merugikan atau menimbulkan keresahan masyarakat, maka kami sebagai warga akan menindaklanjutinya agar tidak merugikan salah satu pihak,” katanya.

Ansori mengakui, sikap masyarakat terhadap kerja sama ini masih beragam. Namun karena sudah ada kesepakatan bersama, maka uji coba tetap dijalankan sembari dilakukan evaluasi.

“Tadi saya langsung mengecek kondisi armada yang masuk. Alhamdulillah, truk yang digunakan masih baru dan sesuai dengan yang disepakati. Sampah yang diangkut juga masih baru, bukan sampah lama,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya perbaikan teknis, terutama terkait air lindi dan dampaknya terhadap lingkungan.

“Masalah utamanya adalah air lindi. Kami meminta agar jangan sampai ada tetesan di jalan. Kapasitas penampungan air lindi pada kendaraan masih terlalu kecil dan perlu diperbaiki. Hal-hal kecil seperti ini jika tidak segera diperbaiki, bisa menjadi masalah besar di kemudian hari,” tegasnya.

Selain itu, Ansori menyampaikan aspirasi warga terkait kualitas air dan Kompensasi Dampak Negatif (KDN) yang hingga kini belum dijelaskan secara rinci.

“Kami berharap ke depan ada kejelasan mengenai bentuk kompensasi, mekanisme pembagian, dan siapa saja yang berhak menerima. Masyarakat hanya ingin memastikan bahwa kerja sama ini tidak merugikan lingkungan dan warga sekitar,” pungkasnya.

Terpisah, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, pengiriman sampah ke TPSA Cilowong merupakan cara untuk penanganan sampah yang selama ini menjadi permasalah serius di Kota Tangsel.

"Perjanjian dengan Pemkot Serang soal penanganan sampah ini kita harapkan minimal 2 tahun dan nantinya bisa diperpanjang lagi,” ujarnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Pria yang biasa disapa Pak Ben tersebut menambahkan, kerja sama dengan Kota Serang dilakukan untuk pengelolaan sampah di TPSA Cilowong dengan kapasitas sekitar 500 ton per hari. 

"Untuk sementara uji coba pembungan sampah ke TPA Cilowong dilakukan selama 1 minggu. Sampah yang kita buang kesana per hari sekitar 50 ton dulu," tambahnya.

Sekretaris Daerah Kota Tangsel Bambang Noertjahjoa menambahkan, pembuangan sampah ke TPSA Cilowong adalah langkah strategis untuk mengurangi tekanan berlebih pada TPA Cipeucang yang kapasitasnya terbatas.

“Pembuangan atau pengalihan sampah 500 ton per hari ke Kota Serang adalah solusi konkret dan terukur untuk menekan penumpukan sampah di Kota Tangsel dalam masa darurat saat ini,” ujarnya.

Pria yang biasa disapa Bambang Apul tersebut menambahkan, saat ini sampah Kota Tangsel mencapai sekitar 1.000 ton per hari, sementara TPA Cipeucang hanya mampu menampung sekitar 400 ton per hari. 

Kondisi ini menyebabkan kelebihan sampah harian di TPA Cipeucang yang berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat sekitar.

"Melalui kerja sama lintas daerah ini, sebagian beban pengelolaan sampah Kota Tangsel dialihkan secara terstruktur ke TPSA Cilowong di Kota Serang," tutupnya.

Diketahui, sampai saat ini tumpukan sampah masih terjadi disejumlah sudut Kota Tangsel. Seperti di Jalan Padjajaran Pamulang, kolong flyover Ciputat, di pinggir jalan dekat Pasar Cimanggis Ciputat dan sejumlah titik lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangsel, Tubagus Asep Nurdin mengatakan, pengiriman sampah ke TPSA Cilowong telah dimulai sejak awal 2026 dengan volume sekitar 50 ton per hari.

"Secara bertahap volumenya akan kita tambah dan selama uji coba ini kita kirim 50 ton sampah per hari," ujarnya.

Asep menambahkan, sampah yang dikirim ke Kota Serang adalah sampah baru atau sampah harian yang dihasilkan masyarakat Kota Tangsel. Artinya, bukan sampah lama yang ada di TPA Cipeucang Serpong.

Pengiriman sampah ke Cilowong saat ini masih dalam tahap uji coba selama satu minggu. Selama uji coba pihaknya bersama Pemkot Serang akan melakukan evaluasi total baik dari sisi teknis, operasional, maupun dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat.

"Untuk pengiriman sampahnya kita  menggunakan armada punya kita sendiri, yakni milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel sendiri," jelasnya.

Sampah-sampah tersebut ditutup menggunakan terpal dan menimbulkan aroma menyengat dan tidak sedap. Sampah tersebut dibiarkan karena TPA Cipeucang penuh dan saat ini sedang dalam perbaikan atau pembangunan. (ald-bud)

Sumber: