Komika Kritik Pedas ke Pemda
Mega Salsabila dan Pedro Andrianus Payong Rean usai open mic di acara Stand up Comedy yang diselenggarakan Badan Komukasiin Rakyat Unis, Tangerang, Rabu (8/7).(Abdul Aziz/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Para komika yang tergabung dalam Komunitas Stand Up Indo Tangerang Raya memberikan kritikan pedas kepada pemerintah daerah (Pemda), yang disampaikan lewat stand up comedy, yang digelar Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang.
Acara tersebut banyak dihadiri komika Komunitas Stand Up Indo Tangerang Raya seperti Mega Salsabila, Pedro Andrianus Payong Rean dan komika lainnya. Selain itu gelaran tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan komedian diantaranya, Nyak Kopsah, asal Kota Tangerang, dan Kata Baba ,komedian asal Bogor. Kegiatan yang digagas sebagai wadah aspirasi publik ini berhasil memikat ratusan audiens, terutama saat komika asal Kabupaten Tangerang, Mega Salsabila, naik ke atas panggung.
Dalam penampilannya, Mega tidak hanya menyuguhkan komedi, tetapi juga melontarkan kritik terhadap pemerintah daerah khususnya Kabupaten Tangerang, dengan gaya khasnya, Mega berkelakar mengenai ketidakhadiran orang nomor satu di Kabupaten Tangerang tersebut.
Mega mengapresiasi langkah mahasiswa UNIS yang telah menginisiasi forum komunikasi rakyat ini. Menurutnya, acara ini merupakan jembatan yang sangat efektif untuk mempertemukan rakyat dengan pejabatnya tanpa harus melalui aksi demonstrasi di jalanan.”Kalau mahasiswa bisa bertemu langsung dengan pejabatnya, itu mungkin bisa jadi jalan baru untuk kita berkomunikasi tanpa harus mendobrak pintu kantor,” ujar Mega saat ditemui usai open mic, Rabu (8/7).
Pada kesempatan itu, Mega menilai, bahwa banyak program yang sebenarnya sudah baik di Kabupaten Tangerang, namun eksekusinya kerap kali tidak tepat sasaran. Ia menyoroti banyaknya proyek fisik yang dinilai kurang mendesak dibandingkan kebutuhan dasar masyarakat. “ Seperti gapura, titik nol, hingga hutan bambu. Seharusnya kebutuhan dasar seperti jalan rusak dan penerangan jalan umum (PJU) yang menjadi prioritas,” tegasnya.
Ia berharap, ke depan pemerintah daerah lebih berpihak kepada kepentingan rakyat dibandingkan kepentingan pihak lain. Ia menantang pemerintah untuk melihat langsung kondisi nyata di lapangan, misalnya dengan melintasi rute dari Tigaraksa menuju Stasiun Daru atau Cilejit pada malam hari.
Para mahasiswa dan komika berharap pemerintah tidak antikritik, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk membenahi pelayanan publik dan infrastruktur di Tangerang Raya secara utuh. Ia juga berharap, agar seluruh kampus di Tangerang Raya, bahkan Banten, dapat meniru inovasi UNIS dalam menciptakan ruang dialog dua arah.
Senada dikatakan komika lainnya, Pedro Andrianus Payong Rean mengapresiasi pihak kampus Unis Tangerang yang telah menyelenggarakan open mic. Hal ini menjadi panggung unik bagi mahasiswa dan warga untuk menyampaikan aspirasi. Berbeda dengan aksi demonstrasi konvensional, keluhan mengenai kondisi infrastruktur hingga pelayanan publik dikemas melalui pertunjukan stand up comedy.
Ia menilai inovasi ini adalah cara yang paling tepat untuk menjembatani komunikasi antara rakyat dan pemerintah. Penyampaian kritik melalui komedi jauh lebih cair dibandingkan debat formal. Menurutnya, pesan yang dibawa terasa lebih “masuk” karena suasananya tidak tegang, meski secara substansi pembicaraannya tetap serius.
Pedro yang juga seorang mahasiswa sekaligus komika asal Cimone ini, menyoroti sejumlah keresahan nyata yang dirasakan masyarakat di Tangerang Raya. Seperti perilaku truk tanah yang kerap ugal-ugalan, debu jalanan yang membahayakan pengendara motor.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, Adib Miftahul mengatakan, pembentukan Badan Komunikasi Rakyat ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda, khususnya Gen-Z, untuk menyampaikan aspirasi dan kritik membangun terkait kebijakan pemerintah di wilayah Banten dan Tangerang Raya.
Inisiatif ini lahir dari kebutuhan akan adanya kanal komunikasi yang efektif antara kaum muda dengan para pemangku kepentingan. “Ini sebagai jembatan komunikasi, khususnya kepada Gen-Z, bahwa teman-teman punya kritik yang solutif dan membangun terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah daerah,” kata Adib.
Meskipun dalam acara yang diselenggarakan tersebut para kepala daerah dan pejabat teras lainnya yang diundang tidak hadir, pihak penyelenggara tetap optimistis. Badan ini berfungsi menjembatani aspirasi mahasiswa dengan pendekatan akademik yang berbasis data, bukan sekadar kritikan tanpa dasar.
Ke depan, Badan Komunikasi Rakyat ini, lanjut Adib, akan dibuat lebih masif untuk merespons era digitalisasi informasi dan disrupsi informasi. Badan ini juga dirancang sebagai alat kontrol sosial yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat secara luas. Dengan mengandalkan komunikasi yang relevan, Adib berharap, suara generasi muda dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan yang lebih inklusif.(ziz)
Sumber:

