Pemdes Jatimulya Gencarkan Pencegahan DBD
FOGGING: Pemdes Jatimulya, Kecamatan Kosambi, melakukan fogging di rumah warga sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya DBD. -Randy Yasetiawan/Tangerang Ekspres-
TANGERANGEKSPRES.ID, KOSAMBI — Pemerintah Desa Jatimulya, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menggelar kegiatan fogging di sejumlah lingkungan permukiman warga. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan agar tidak muncul kasus DBD yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, petugas melakukan fogging secara menyeluruh hingga ke setiap sudut rumah warga. Penyemprotan dilakukan karena nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab penularan DBD kerap bersembunyi di tempat-tempat gelap, lembap, serta area yang dipenuhi barang bekas maupun genangan air sebagai lokasi berkembang biak.
Selain menyasar seluruh sudut rumah, petugas juga memfokuskan penyemprotan pada lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti tempat penampungan air, pekarangan rumah, serta area yang memiliki genangan air.
Kepala Desa Jatimulya, Poniman, mengatakan, fogging merupakan salah satu langkah cepat untuk menekan populasi nyamuk dewasa. Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Fogging ini kami lakukan sebagai bentuk ikhtiar dan kepedulian Pemerintah Desa Jatimulya dalam melindungi kesehatan masyarakat. Kami tidak ingin ada warga yang menjadi korban DBD. Karena itu, kami bergerak cepat melakukan penyemprotan di lingkungan yang dinilai berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk," ujar Poniman, Rabu (8/7).
Ia menjelaskan, fogging bukanlah solusi utama apabila lingkungan sekitar masih dipenuhi barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan maupun genangan air lainnya.
"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Kalau jentiknya masih ada karena lingkungan tidak dibersihkan, maka nyamuk akan berkembang lagi. Oleh sebab itu, kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan masing-masing," katanya.
Poniman mengimbau masyarakat agar rutin membersihkan pekarangan rumah, membuang barang bekas yang sudah tidak digunakan, serta memastikan tidak ada wadah yang dapat menjadi tempat genangan air.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Desa Jatimulya agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Jangan biarkan kaleng bekas, ban bekas, ember, pot bunga, ataupun wadah lainnya menjadi tempat nyamuk bertelur. Pencegahan harus dimulai dari rumah kita sendiri," tegasnya.
Menurutnya, musim kemarau seperti saat ini justru menjadi salah satu periode yang harus diwaspadai. Genangan air yang tersisa di berbagai wadah dapat menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
"Musim kemarau bukan berarti kita bebas dari ancaman DBD. Justru genangan air yang sedikit tetapi dibiarkan bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Karena itu, masyarakat jangan lengah dan tetap menjaga kebersihan lingkungan setiap hari," ucapnya.
Poniman juga mengingatkan pentingnya menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air.
"Kami berharap masyarakat membiasakan gerakan 3M Plus dalam kehidupan sehari-hari. Langkah sederhana ini terbukti sangat efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Jangan menunggu ada korban baru kita bergerak, tetapi mari kita cegah sejak dini," ungkapnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Desa Jatimulya akan terus berkoordinasi dengan pihak kesehatan serta mengedukasi masyarakat agar semakin memahami pentingnya pencegahan DBD melalui perilaku hidup bersih dan sehat.
Sumber:

