BJB NOVEMBER 2025

Mayoritas Kebakaran pada 2025 Karena Korsleting

Mayoritas Kebakaran pada 2025 Karena Korsleting

Anggota Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel melakukan pemadaman api saat kebakaran yang menghanguskan asrama polisi di Serpong pada September 2025 lalu.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Kasus kebakaran yang terjadi di Kota Tangsel selama 2025 didominasi akibat hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Setidaknya, selama 2025 Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel menangani 61 kasus kebakaran.

Kepala Dinas Pemadam Keba­karan dan Penyelamatan Kota Tangsel Ahmad Dohiri me­ngatakan, selama 2025 pihaknya me­nangani 61 kasus kebakaran. ”Jumlah ini berdasarkan data dari Januari sampai Desember 2025,” ujarnya, Minggu, 4 Ja­nuari 2026.

Dohiri menambahkan, 61 ka­sus kebakaran tersebut terjadi di 7 kecamatan se-Kota Tangsel. Pada Januari 2025 terjadi 6 ka­sus kebakaran, Februari 4 kasus kebakaran, Maret 11 ka­sus kebakaran, April 2 kasus kebakaran, Mei 2 kasus ke­ba­karan. Juni terjadi 5 kasus ke­bakaran, Juli 8 kasus kebakaran, Agustus 3 kasus kebakaran, September 7 kasus kebakaran.

”Sementara itu pada Oktober terjadi 7 kasus kebakaran, No­vem­ber 3 kasus kebakarab dan Desember 5 kasus kebakaran. Total ada 61 kasus kebakaran selama 2025,” tambahnya.

Dohiri mengaku, jumlah ke­ba­karan pada 2025 menurun dibanding tahun-tahun sebe­lumnya, dimana pada 2024 terjadi 107 kasus kebakaran, 2023 terjadi 93 kasus kebakaran, 2022 terjadi 66 kebakaran, 2021 terjadi 68 dan 2020 terjadi 79 kebakaran.

Menurutnya, penyebab utama kebakaran adalah akibat kor­sleting listrik. Kasus kebakaran yang terjadi didominasi rumah tinggal yang mencapai 60 per­sen. Rumah tinggal yang ter­bakar bukan lantaran ditinggali pemiliknya namun, terjadi di­luar pengetahuan mereka. 

”Penyebabnya lagi-lagi akibat korsleting listrik. Lupa cabut colokan listrik saat berpergian dan lainnya,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah kasus kebakatan dari tahun ketahun angkanya selaku menurun. Hal tersebut tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan, seperti sosialisasi masif yang dilakukan terkait bahaya keba­karan dan cara mencegah ter­jadinya kebakaran.

”Termasuk pembentukan re­lawan pemadam kebakaran (Redkar) yang saat i i jumlahnya mencapai ribuan,” jelasnya.

Tidak hanya kebakaran, pi­haknya juga melakukan penye­la­matan atau evakuasi selama 2025 yang jumlahnya mencapai 203 kasus.

Untuk evakuasi korban keba­karan berjumlah 2, evakuasi pohon tumbang 6, evakuasi lalin mobil atau motor atau jalanan 10, evakuasi sarang tawon 50, evakuasi ular 58, eva­kuasi musang atau kucing 16.

Kemudian evakuasi biawak atau tokek atau buaya 28, eva­kuasi monyet 4, dan penye­lamatan lainnya seperti mele­pas cincin 27. ”Total ada 203 evakuasi penyelamatan yang kita lakukan sepanjang 2025,” tutupnya. (bud)

Sumber: