BJB NOVEMBER 2025

Debit Bendungan Sindangheula Masih Normal, Banjir Kota Serang Disebabkan Pendangkalan Sungai

Debit Bendungan Sindangheula Masih Normal, Banjir Kota Serang Disebabkan Pendangkalan Sungai

Kondisi debit air pada Bendungan Sindangheula, di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Selasa (6/1). (BBWSC3 FOR TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Balai Besar Wi­layah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) menye­butkan, banjir yang melanda Kota Serang sejak Sabtu 3 Ja­nuari sampai Minggu 4 Ja­nuari 2026, disebabkan oleh pendangkalan atau penyem­pitan sungai serta sumbatan sampah, bukan dikarenakan meluapnya Bendungan Sin­dangheula, di Kecamatan Pa­­buaran, Kabupaten Serang.

Berdasarkan data yang diper­oleh, pada Sabtu 3 Januari 2026 Tinggi Muka Air (TMA) Bendungan Sindangheula mencapai 105,240 Mdpl masuk dalam kategori aman, dan pada Minggu 4 Januari 2026 TMA Bendungan Sindangheula mencapai 105,160 Mdpl yang juga masih masuk dalam ka­tegori aman.

Sehingga, tidak terjadi pe­luap­an air sungai pada Ben­dungan Sindangheula mes­kipun hujan deras terus meng­guyur sejak dua hari lalu, namun banjir yang terjadi di Kota Serang bukan dari luapan air sungai Bendungan Sin­dangheula.

Kepala BBWSC3 Dedi Yudha Lesmana mengatakan, kondisi air sungai pada Bendungan Sindangheula masih dalam kategori normal sejak Sabtu hingga Minggu, meskipun hujan deras terus mengguyur wilayah Kota Serang namun tidak ada luapan air sungai yang terjadi. TMA pada Sabtu 3 Januari 2026, sekitar 105,240 Mdpl dan tampungan ben­dungan masih tersisa 14,7 persen, dan Minggu 4 Januari 2026 TMA bendungan sekitar 105,160 Mdpl dengan daya tampung tersisa 15,5 persen. 

"Dengan TMA tersebut, kon­disi Bendungan Sindangheula masih dalam statusnya normal tidak ada peluapan air," kata­nya melalui keterangan ter­tulis, Senin (5/1).

Dedi mengatakan, banjir yang terjadi di Kota Serang bukan diakibatkan oleh tinggi­nya air dari Bendungan Sin­dangheula, yang membuat sungai meluap. Namun, banjir yang terjadi di Kota Serang tersebut akibat dari aliran sungai yang telah menyempit atau mendangkal, dan sum­batan sampah yang membuat aliran irigasi tertutup. 

"Banjir yang kemarin terjadi di Kota Serang, bukan dari luapan air sungai dari Bendu­ngan Sindangheula. Tapi, kemung­kinan dari sungai-sungai yang menyempit atau mendangkal dan sumbatan sampah," ujarnya.

Dikatakan Dedi, pihaknya telah melaksanakan berbagai langkah cepat, guna menekan dampak banjir, serta menjaga keselamatan masyarakat di wilayah terdampak.

Pena­ngan­an dilaksanakan secara terpadu, melalui kolaborasi dan koordinasi intensif bersa­ma pemerintah daerah, baik Pemprov Banten, Pemkab Serang, dan Pemkot Serang, dengan mengoptimalkan fungsi infrastruktur pengendali banjir, khususnya waduk, me­la­lui penerapan pola ope­rasi waduk secara ketat dan terukur.  

"Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan debit air, agar tetap berada dalam batas aman serta mengurangi risiko luapan ke wilayah hilir. Pena­nganan ke sejumlah titik kritis juga telah dilakukan, kami langsung mengerahkan alat berat berupa excavator dan mobil pompa ke titik-titik kritis banjir," ucapnya.

Kata Dedi, petugas operasi dan pemeliharaan bersama Tim Satuan Tugas Pelaksanaan Pengendalian Banjir dan Air (SatgasLAK PBA), melakukan penelusuran lapangan secara intensif untuk memastikan setiap penangan­an darurat berjalan efektif, ter­koor­dinasi, dan tepat sasaran.

Penanganan darurat juga dilakukan, melalui pema­sangan tanggul sementara menggunakan geobag dan bronjong, pada sungai-sungai yang meluap atau mengalami kerusakan tanggul, seperti Sungai Cikalumpang dan Sungai Ciwaka. 

"Di kawasan permukiman terdampak, termasuk Peru­mahan Grand Sutera, telah dilakukan pemasangan geobag untuk menahan luapan Sungai Ciwaka, mencegah air kembali meluap ke kawasan permu­kim­an sekitar. Selain itu, ke­giatan normalisasi dan pem­bukaan jalur aliran air dilaku­kan pada bagian hilir Sungai Ciwaka, termasuk ke arah Bumi Ciruas Permai dua, guna mengembalikan kapasitas aliran sungai," tuturnya.

Tidak hanya itu, Dedi me­ngaku, bersama unit kerja terkait juga telah menyiapkan langkah penanganan jangka panjang dengan meng­uta­makan keselamatan masyara­kat serta keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air.  Upaya tersebut dilakukan, melalui rehabilitasi dan nor­malisasi pada sungai-sungai utama beserta anak sungai yang kondisinya kian kritis, penguatan tanggul, serta pe­mulihan infrastruktur sumber daya air yang mengalami kerusakan.

Sumber: