Warga Sekitar TPAS Cilowong Minta Kompensasi Rp1 Miliar
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan (kiri).(Tri Budi/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Warga sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, meminta dana kompensasi Rp 1 miliar dan kesempatan tenaga kerja. Hal itu menyusul adanya kerjasama pembuangan sampah Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) ke Kota Serang.
Ketua RT 02 Pasir Gadung, Rohidi yaitu wilayah yang paling terdampak dalam kerja sama tersebut mengatakan warga hingga kini masih menunggu kejelasan terkait skema Kompensasi Dampak Negatif (KDN) yang dijanjikan pemerintah. Menurutnya, kompensasi menjadi hal penting sebagai bentuk tanggung jawab atas dampak aktivitas TPAS terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
“Warga berharap KDN nilainya jelas dan benar-benar dirasakan. Minimal sekitar Rp1 miliar dialokasikan untuk wilayah Pasir Gadung, khususnya RT 01 dan RT 02. Namun sampai sekarang belum ada kepastian resmi dari pemerintah,” ujar Rohidi saat dihubungi oleh Tangerang Ekspres, Senin (5/1).
Ia menyebutkan, informasi yang beredar di masyarakat baru sebatas wacana awal, termasuk rencana pembagian KDN sekitar 50 persen untuk wilayah Pasir Gadung dan Wadas Lencikoa, serta 50 persen untuk wilayah sekitar lainnya. Namun skema tersebut belum pernah disosialisasikan secara terbuka.
“Kalau tidak dijelaskan sejak awal, ini bisa menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu kami berharap ada penjelasan resmi, baik soal nominal, mekanisme pembagian, maupun siapa saja yang berhak menerima,” katanya.
Selain KDN, isu penyerapan tenaga kerja lokal juga menjadi perhatian utama warga. Rohidi menuturkan, masih banyak warga Pasir Gadung yang menganggur dan berharap adanya prioritas bagi masyarakat sekitar untuk terlibat langsung dalam operasional TPA Cilowong.“Harapan warga sederhana, ada kesempatan kerja bagi warga sekitar. Selama ini belum ada jaminan atau kepastian dari Pemkot Serang maupun dari Tangerang Selatan terkait penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pihak RT sebenarnya sudah melakukan pendataan warga yang berminat bekerja. Banyak warga mendatangi rumahnya untuk mendaftar, namun kebutuhan tenaga kerja yang disampaikan sementara ini lebih banyak pada posisi sopir armada. “Di wilayah kami, warga yang memenuhi kriteria sopir sangat terbatas. Karena itu warga berharap ada jenis pekerjaan lain yang bisa diisi oleh masyarakat sekitar, tidak hanya sopir,” jelasnya.
Menurut Rohidi, apabila persoalan KDN dan tenaga kerja ini tidak segera dirumuskan dengan jelas, dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan di kemudian hari. Padahal, sejauh ini kondisi masyarakat Pasir Gadung masih relatif kondusif dan memilih menunggu hasil evaluasi uji coba pengiriman sampah.
“Warga saat ini cukup realistis. Mereka tidak menolak secara langsung, tapi ingin memastikan kerja sama ini membawa manfaat nyata. Jangan sampai dampaknya dirasakan, tapi manfaatnya tidak,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat masyarakat akan menyampaikan aspirasi tersebut dalam forum resmi tingkat kecamatan. Aspirasi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyempurnakan kebijakan kerja sama pengelolaan sampah ke depan. “Prinsip kami sederhana, komunikasi harus terbuka dan aspirasi warga harus benar-benar didengar. Kalau KDN jelas dan kesempatan kerja dibuka, saya yakin masyarakat bisa mendukung program ini,” pungkas Rohidi.
Catatan ketiga yang disampaikan warga adalah kondisi akses jalan lingkungan. Menurut Rohidi, aktivitas TPS dan TPA selama ini berdampak pada kerusakan jalan di wilayah Pasir Gadung. “Sejak lama, kondisi jalan di wilayah kami terdampak. Banyak jalan rusak dan berlubang. Selama ini perbaikan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, tambal-sulam di beberapa titik tanjakan dan lubang,” jelasnya.
Warga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap perbaikan jalan lingkungan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu. Sementara untuk ketersediaan air bersih, Rohidi memastikan kondisinya masih relatif aman. “Untuk air bersih, alhamdulillah sejauh ini masih relatif aman dan nyaman. Kami juga berkoordinasi dengan pihak pengelola, dan kualitas air masih terjaga,” ujarnya.
Selain tiga poin utama tersebut, warga juga berharap adanya perhatian terhadap rumah ibadah, khususnya bantuan rutin bagi masjid di wilayah sekitar TPA Cilowong.
Diketahui, saat ini Pemkot Tangsel tengah melakukan uji coba pembuangan sampah ke TPAS Cilowong yang ada di Kota Serang. Uji coba tersebut dimulai sejak 1 hingga 7 Januari 2026 mendatang. Dalam masa uji coba sebanyak 50 ton sampah dikirim ke TPA Cilowong tiap hari menggunakan 10 unit truk milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel.
Sumber:

