BJB

Penjualan Perumahan di Banten Menurun

Penjualan Perumahan di Banten Menurun

Ketua DPD REI Banten, Roni H Adali saat memaparkan penjualan rumah subsidi ke anggotanya di hotel Swiss Belin, Kabupaten Serang, belum lama ini. (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pasar properti di wilayah Provinsi Banten tengah mengalami kemunduran, ber­dasarkan data Dewan Pimpin­an Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Banten, jumlah penjualan rumah subsidi pada Semester I 2026, sebanyak 6.935 unit. Jumlah tersebut menurun sekitar 30-40 persen dibandingkan dengan tahun lalu di periode yang sama.

Ketua DPD REI Banten, Roni H Adali mengatakan, dari total rumah subsidi yang dijual di Banten sebanyak 6.935 unit, kontribusi terbesar berasal dari REI Banten mencapai 3.704 unit.

Posisi berikutnya diisi oleh Asosiasi Pengembang Per­umahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi Banten) 2.292 unit, disusul Himpunan Pengembang Per­mukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra Banten) 624 unit, dan asosiasi pengem­bang perumahan lainnya.

"Sampai dengan Juli di Ban­ten ini baru mencapai 6.935 unit, yang paling banyak ber­dasarkan catatan kami itu perumahan Pondok Banten Indah (PBI), dengan lebih dari 600 unit rumah sejauh ini," katanya, Minggu (9/8).

Meski begitu kata Roni, penjualan sektor perumahan subsidi ini mengalami kon­trak­si. Berdasarkan catatan DPD REI angka penjualan sepanjang tahun ini meng­alami penurunan 30 hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.

Hal ini terjadi lantaran be­berapa faktor, yakni terge­rusnya daya beli masyarakat akibat kondisi ekonomi umum, serta persoalan regu­lasi Lahan Baku Sawah (LBS) dari pemerintah pusat yang menghambat realisasi proyek.

"Kebijakan LBS ini ber­dam­pak terhadap teman-teman developer sehingga enggak bisa bergerak. Kami berharap pemerintah bisa memberi kelonggaran, terutama bagi lahan yang sudah mengantongi izin, kasihan pengembang rumah subsidi untuk rakyat," jelasnya.

Meski demikian, Roni meng­apresiasi kemajuan pada pro­ses perizinan lain, seperti pemeriksaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang kini lebih cepat (sekitar 3 hari) serta kemudahan la­yanan BPN di bawah ke­pe­mimpinan Kanwil BPN Banten.

"Sekarang sudah tidak ada problem lagi disitu. Kita tetap optimis jumah rumah subsidi yang bisa terjual sampai akhir tahun ini bisa diangka 12 ribu unit," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Roni juga memaparkan bahwa pasar properti di wilayah Provinsi Banten didominasi oleh kalangan usia muda. Kelompok usia 19–25 tahun mencatatkan kontribusi ter­ting­gi, yakni sebanyak 2.548 pembeli, disusul kelompok usia 26–30 tahun sebanyak 1.954 pembeli.

Minat dari generasi muda terlihat sangat signifikan dibandingkan kelompok usia yang lebih senior, seperti usia 31–35 tahun 1.078 pembeli, di atas 40 tahun 680 pembeli, dan 36–40 tahun 675 pembeli.

Sementara itu, Ketua Lippo Group, James Riady mene­kankan pentingnya integritas bagi para pengembang pe­rumahan. Menurutnya, in­tegritas bukanlah sekadar proses atau tujuan akhir, melainkan landasan utama untuk mencapai sasaran pembangunan nasional yang lebih besar.

Menurut James, sektor peru­mahan memiliki peran vital dalam menopang pereko­nomian nasional, termasuk memberikan kontribusi tambahan sebesar 2 persen untuk mengejar target per­tumbuhan ekonomi nasional 8 persen per tahun.

"Ini juga berperan untuk keadilan sosial, yakni memas­tikan mereka yang selama ini belum berkesempatan bisa memiliki rumah yang layak dihuni dan berlokasi dekat dengan tempat kerja. Se­mangat inilah yang mendorong REI untuk lebih giat membina generasi pengembang berikutnya," katanya.

Sumber: