BJB

Pertanian Kasemen Masih Aman dari Kekeringan

Pertanian Kasemen Masih Aman dari Kekeringan

Sejumlah petani bersama unsur pemerintah melakukan penanaman padi di areal persawahan Kecamatan Kasemen, Kota Serang, belum lama ini. (ALDI ALPIAN INDRA/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Memasuki musim kemarau, sektor pertanian di Kecamatan Kasemen masih berada dalam kondisi aman. Hingga awal Juli, ketersediaan air irigasi dinilai masih mampu memenuhi kebu­tuh­an lahan persawahan sehingga aktivitas panen petani diperkirakan tidak akan terganggu dalam beberapa waktu ke depan.

Camat Kasemen Sugiri menga­takan, meski terdapat sejumlah wilayah yang setiap tahun berpo­tensi mengalami kekeringan, kondisi saat ini masih terkendali. Daerah Sawah Luhur dan Terumbu yang selama ini menjadi kawasan rawan kekeringan masih mem­peroleh pasokan air irigasi yang mencukupi.

"Kalau masa panennya tidak melewati Agustus, insyaallah masih aman," ujarnya, Kamis (2/7).

Menurut Sugiri, pasokan air yang masih stabil berasal dari jaringan irigasi Bendung Pamarayan yang mengalir melalui saluran Kalima­lang hingga mengairi areal persa­wahan di Kasemen, termasuk wilayah Kilasah. Kondisi tersebut membuat tanaman padi petani tetap tumbuh normal meski musim kemarau mulai berlangsung.

Ia menuturkan, hingga saat ini belum terlihat dampak signifikan terhadap lahan pertanian di Ka­semen. Debit air irigasi masih mencukupi sehingga petani tetap dapat menjalankan kegiatan budi­daya maupun panen seperti biasa.

Meski demikian, pemerintah kecamatan tetap mengantisipasi kemungkinan menurunnya pasok­an air apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Kewas­padaan terutama diarahkan pada periode September hingga Oktober yang bertepatan dengan musim tanam kedua.

Pada masa tersebut, kebutuhan air irigasi meningkat sehingga berkurangnya debit air berpotensi memengaruhi produktivitas perta­nian. Masyarakat setempat menge­nal musim panen kedua itu sebagai panen cegeran, yakni masa panen ketika harga gabah dan beras umumnya lebih tinggi.

"Yang perlu diwaspadai justru saat memasuki September sampai Oktober karena sudah masuk masa tanam kedua atau panen cegeran," katanya.

Selain menjaga ketersediaan air untuk pertanian, pemerintah kecamatan juga menaruh perhati­an terhadap kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kema­rau. Menurut Sugiri, apabila keke­ringan terjadi berkepanjangan, pemenuhan air minum dan ke­butuhan mandi, cuci, kakus (MCK) menjadi prioritas utama yang harus dipastikan tetap terpenuhi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, mengatakan puncak musim ke­marau di wilayah Banten, khu­susnya Kota Serang, diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus. Karena itu, pemerintah daerah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, baik yang berdampak pada sektor pertanian maupun terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

"Prediksi puncak musim kemarau di Banten, khususnya Kota Serang, berada pada Juli sampai Agustus," ungkapnya. (ald)

Sumber: