BJB NOVEMBER 2025

Trotoar Jalan Dekat Pasar Cimanggis Penuh Sampah

Trotoar Jalan Dekat Pasar Cimanggis Penuh Sampah

Sampah menumpuk di trotoar Jalan Raya Bogor-Jakarta di dekat Pasar Cimanggis Ciputat. -Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Sampai saat ini sampah masih menjadi perma­salahan besar yang harus dita­ngani Pemkot Tangsel. Pasalnya, TPA Cipeucang telah penuh dan tidak bisa menampung sampah lagi.

Sejak 2 bulan terakhir, terjadi penumpukan sampah dise­jumlah lokasi di Kota Tangsel. Salah satunga tumpukan sam­pah terjadi di sekitar kawasan Pasar Cimanggis Ciputat. Pem­kot Tangsel sendiri telah meng­angkut tumpukan sampah yang ada di pinggir Jalan Raya Ja­karta-Bogor, tepatnya di depan Pasar Cimanggis, Ciputat. 

Meskipun telah diangkut na­mun, tak lama kemudian mun­cul tumpukan sampah baru tak jauh dari lokasi tersebut.

Tumpukan sampah terlihat di trotoal atau pinggir jalan dekat TPBU Cimanggis yang lokasinya hanya sekitar 100 meter dari lokasi awal ada tum­pukan sampah yang telah diangkut. Sampah yang dibung­kus kantung plastik serta karung berjejer di lokasi pinggir jalan yang rusak.

Bahkan, tumpukan sampah tersebut tidak hanya di satu sisi trotoar saja namun, dikedua trotoar. Tak hanya, sampah ju­ga mulai berada di pinggir jalan. Hal itu terjadi lantaran tempat pembuangan sementara sampah di didekat pasar Ci­mang­gis ditutup dan saat ini ditutup menggunakan terpal.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, sampah-sampah yang masih meng­gu­nung di sejumlah titik telah diangkut secara bertahap. ”Saya mengimbau masyarakat meng­hindari membuang sampah di sejumlah titik penumpukan yang ada,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Pria yang biasa disapa Pak Ben ini memastikan pengang­kutan sampah dilakukan ber­tahap. Saat ini, produksi sam­pah di Tangsel mencapai 900 hingga 1.000 ton per hari. De­ngan kondisi TPA Cipeucang yang semakin terbatas, kami memfokuskan kebijakan pada aktivasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di tingkat kecamatan untuk me­ngolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) maupun kompos. 

”Targetnya, dengan penga­wasan ketat dari tim Gakkumdu dan optimalisasi TPST, beban residu yang dibuang ke luar daerah melalui skema kerja sama antar daerah (KSDD) da­pat diminimalisir,” tambah­nya.

Pal Ben kembali mengimbau kepada pelaku usaha dan sektor rumah tangga untuk melakukan pemilahan dari sumbernya. Pengawasan oleh tim Gakkum­du terus dilakukan secara kon­sisten di seluruh wilayah ke­camatan.

”Ini untuk memastikan tidak ada ruang bagi munculnya titik pembuangan liar baru yang merusak ekosistem perkotaan,” tuturnya.

Sementara itu, petugas keber­sihan Pasar Cimanggis bernama Udin (70) mengatakan, penum­pukan sampah bukan hanya berasal dari pedagang namun, juga dari warga di luar pasar yang membuang sampah sem­barangan. 

”Penyebabnya karena tidak ada bak atau tong penampungan sam­pah untuk mereka. Sampah yang menumpuk di Jalan Raya Jalarta-Bogor dan sekitar Pasar Cimanggis sebagian besar ber­asal dari luar dan bukan dari pedagang pasar,” jelasnya.

Pihaknya mengaku, dengan ditutupnya tempat sampah yang ada disana sejak satu ming­gu lalu membuat warga memindahkan sampah ke area jalan utama. Kondisi ini me­nam­bah kekumuhan di sekitar pasar karena tumpukan sampah yang baru. 

”Saya berharap Pemkot Tang­sel menyediakan tempat pem­buangan sementara yang jelas dan menata ulang saluran air di sekitar pasar agar jalanan tidak banjir,” tutupnya. (bud)

Sumber: