BJB NOVEMBER 2025

Program Kolaborasi The Story of Buniayu di Desa Buniayu. Angkat Bambu ke Ranah Internasional

Program Kolaborasi The Story of Buniayu di Desa Buniayu. Angkat Bambu ke Ranah Internasional

THE STORY OF BUNIAYU: Panitia Program The Story of Buniayu saat menjelaskan Desa Buniayu, Kecamatan Sukamulya, yang akan dikenalkan ke ranah internasional melalui anyaman bambu khas Desa Buniayu.-Randy Yesetiawan-Tangerang Ekspres

TANGERANGEKSPRES.ID, SUKAMULYA — Program kolaborasi bertajuk The Story of Buniayu digelar di Desa Buniayu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang. The Story of Buniayu bertujuan mengangkat potensi Desa Buniayu sebagai sentra kerajinan anyaman bambu tradisional.

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa Kelas Internasional LSPR Institute of Communication & Business angkatan 27 dan bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang. 

Program tersebut merupakan kolaborasi lintas mata kuliah, di antaranya PR Program and Evaluation, Creative Production and Publicity, Communication Techniques, serta Community Development.

The Story of Buniayu bertujuan mengangkat potensi Desa Buniayu sebagai sentra kerajinan anyaman bambu tradisional melalui pelatihan digital dan pengembangan produk guna memperkuat promosi serta daya saing produk lokal Indonesia.

Melalui rangkaian kegiatan International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu khas Desa Buniayu direncanakan akan diperkenalkan ke pasar internasional, salah satunya melalui pameran mini di Malaysia.

Penggerak Saung Bakul Buniayu, Dhany, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dan pemerintah daerah membuka peluang baru bagi pengembangan produk anyaman bambu desa setempat.

“Kolaborasi mahasiswa LSPR bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro ini membuka peluang pengembangan produk anyaman bambu Desa Buniayu ke arah yang lebih inovatif dan bernilai, sekaligus menambah pengetahuan masyarakat tanpa meninggalkan tradisi lokal,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Sabtu (10/1).

Ketua penyelenggara The Story of Buniayu, Moza Febrianita, mengatakan program ini dirancang untuk mendorong penguatan UMKM sekaligus menjaga keberlanjutan produk tradisional Indonesia. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada promosi dan pengemasan produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Melalui The Story of Buniayu, kami ingin mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain, serta mendorong daya saing para pengrajin lokal. Dengan demikian, produk anyaman bambu Desa Buniayu dapat dikenal lebih luas dan memiliki peluang bersaing di pasar internasional.

“Pelaksanaan kampanye The Story of Buniayu terbagi dalam tiga tahap. Pada tahap pre-event, kegiatan difokuskan pada pelatihan digital, pendampingan pembuatan konten, serta pengembangan desain produk,” paparnya.

Moza menjelaskan, tahap main event akan diisi dengan penyelenggaraan mini exhibition di Malaysia untuk memperkenalkan produk kepada audiens internasional. Sementara itu, tahap post-event meliputi pembuatan video dokumenter, rangkuman konten media sosial, serta kunjungan lanjutan ke Desa Buniayu guna melihat perkembangan pengrajin pascapelaksanaan kampanye.

“Program ini mengusung tagline Reviving Indonesian Pride sebagai simbol penguatan budaya lokal melalui kreativitas mahasiswa. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 8 mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi, melalui pendekatan edukasi dan komunikasi kreatif yang berkelanjutan,” katanya.

Desa Buniayu sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman bambu di Kabupaten Tangerang. Berbagai produk dihasilkan oleh para pengrajin setempat, mulai dari tas, wadah multifungsi, hingga perlengkapan rumah tangga yang dibuat dengan teknik tradisional turun-temurun.

Sumber: