Lebak Klaim Jadi Penyangga Beras Jabodetabek
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Lebak, Rahmat Yuniar.--
TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mengkalim produksi beras dari Lebak menjadi salah satu daerah penyangga pangan untuk kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Pasalnya, produksi beras pada 2025 mencapai sekitar 380 ribu ton dan melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.
Rahmat Yuniar, Kepala Distan Kabupaten Lebak mengatakan, produksi pangan di wilayahnya terus dijaga melalui pola tanam dua kali dalam setahun. Pemerintah daerah juga mendorong petani segera melakukan percepatan tanam setelah panen agar pasokan beras tetap berkelanjutan.
"Jika musim panen, kami minta petani agar melakukan percepatan tanam guna keberlanjutan produksi pangan," katanya kepada wartawan, Senin (13/7).
Rahmat menjelaskan, petani di Lebak mengelola lahan sawah dengan luas tambah tanam mencapai 100 ribu hektare per tahun. Dengan indeks pertanaman dua kali setahun, daerah tersebut mampu menjaga produksi padi dalam jumlah besar.
"Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, Kabupaten Lebak bersama Kabupaten Serang masuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk kebutuhan masyarakat Jabotabek," ujarnya.
Rahmat menerangkan, produksi gabah kering pungut pada 2025 mencapai 725.813 ton. Jika dikonversi menjadi beras, jumlahnya mencapai sekitar 380 ribu ton.
"Kami mendorong produksi pangan di Lebak terus meningkat dan terbukti pada 2025 sebanyak 725.813 ton gabah kering pungut dan jika dikonversikan beras mencapai 380.000 ton," papar Rahmat.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Lebak yang berjumlah sekitar 1,4 juta jiwa hanya sekitar 140 ribu ton per tahun. Dengan produksi 380 ribu ton, Lebak mencatat surplus sekitar 240 ribu ton.
"Surplus inilah yang kemudian menjadi kontribusi Lebak untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah lain, terutama kawasan Jabotabek yang memiliki kebutuhan beras tinggi," ucapnya.
Kepala Bidang Produksi Distan Kabupaten Lebak Dodi Hermawan menambahkan, dalam menghadapi musim kemarau, Distan sudah meminta petani agar mengaktifkan pompa air, sehingga tanaman padi bisa menghasilkan. Jangan sampai musim kemarau itu menimbulkan gagal panen.
"Kami sudah minta petani agar mengaktifkan pompa air bantuan dari pemerintah yang jumlahnya ribuan unit," paparnya.
Menurutnya, penggunaan pompa air sebagai solusi untuk menghadapi musim kemarau, sehingga petani tetap bisa menghasilkan produksi pangan. Pompa air, termasuk pompa pantek itu bisa menyedot air permukaan aliran sungai, embung, sumber mata air hingga air bawah tanah untuk mengaliri ke areal persawahan.
"Kami berharap petani dapat menggunakan pompa air untuk memenuhi ketersediaan air saat musim kemarau," ucapnya.(fad)
Sumber:

