BJB
hut bjb

Alun-Alun Rangkasbitung Minim Tempat Sampah

Alun-Alun Rangkasbitung Minim Tempat Sampah

Sejumlah warga berolahraga di Alun-Alun Rangkasbitung saat waktu CFD pada Minggu (7/6) pagi. (AHMAD FADILAH/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Kebersihan Alun-Alun Rangkasbitung yang berada di pusat kota, tepatnya di depan Kantor Bupati Lebak menjadi sorotan pengunjung. 

Minimnya fasilitas tempat sampah dinilai menjadi penyebab utama sampah berserakan di area taman dan sekitar alun-alun, terutama saat akhir pekan dan momen Car Free Day (CFD) ming­gu pagi.

Fitri, seorang pengunjung yang datang bersama anaknya untuk olahraga di waktu CFD, menya­yang­kan kondisi tersebut. 

Menurutnya, taman dan area terbuka yang diperuntukkan bagi anak-anak seharusnya menjadi ruang publik yang bersih, nyaman, dan aman dipandang.

“Ini kan alun-alun dimana ada area layak anak, tempat orang tua bawa anak bermain sambil berolahraga. Banyak yang datang sambil membawa makanan, tapi tong sampahnya minim, hanya ada depan kantor bupati saja. Akhirnya sampah berserakan dan mengganggu pemandangan,” kata Fitri, kepada wartawan di Alun-Alun Rangkasbitung, Minggu (7/6).

Saat berkunjung dan berkeliling alun-alun, dirinya melihat sejum­lah sampah plastik dan sisa makanan tergeletak di beberapa sudut taman dan jalan. Kondisi ini dinilai tidak mencerminkan lingkungan bermain yang sehat.

Ia berharap pihak pengelola taman dapat menyediakan fasilitas tempat sampah yang memadai di beberapa titik strategis. Dengan begitu, pengunjung memiliki pilihan untuk membuang sampah pada tempatnya dan tidak asal meletakkan di area bermain.

“Kalau tempat sampahnya terse­dia, orang juga pasti lebih tertib. Kami juga melihat pedagang sangat tidak tertib dan terlihat tidak ditata keberadaannya, kaena bisa ber­jualan dimana saja," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan pengunjung dan pedagang agar ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan alun-alun. Masyarakat pun diminta untuk tidak membuang sampah sem­barangan, bahkan sebisa mungkin membawa kembali sampah jika tidak menemukan tempat pem­buangan.

“Harapannya sih pengunjung dan para pedagang juga sadar. Kalau bisa jangan buang sem­barangan. Kalau tidak ada tempat sampah, ya disimpan dulu atau dibawa pulang,” ucapnya.

Amsarudin, pengamat ling­kungan menyatakan, keberadaan Alun-Alun Rangkasbitung selama ini menjadi ruang publik favorit masyarakat khususnya keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama anak, baik untuk sekadar bermain atau olahraga. 

"Oleh karena itu, sinergi antara pengelola alun-alun dan pe­ngunjung dinilai penting agar  tetap terjaga kebersihannya dan benar-benar layak menjadi ruang publik favorit untuk bermain dan olahraga," tuturnya.(fad)

Sumber: