BJB FEBRUARI 2026

JB Usir Tim Rumah Aspirasi Bupati

JB Usir Tim Rumah Aspirasi Bupati

Kondisi rumah aspirasi Bupati Lebak sesudah disegel oleh pemilik gedung, Selasa (10/3). (AHMAD FADILAH/TANGERANG EKSPRES )--

TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Rumah aspirasi milik Hasbi Asyidiki Jayabaya yang merupakan Bupati Lebak dilaporkan disegel oleh pemilik bangunan. Hal itu terjadi sete­lah muncul dugaan tempat tersebut digunakan sebagai lokasi kumpul para ASN untuk jual beli jabatan. 

Berdasarkan Informasi, Se­lasa (10/3), sejumlah barang dari dalam gedung dikeluarkan oleh pekerja. Barang-barang yang diangkut antara lain mu­kena, bantuan susu untuk ibu hamil, hingga foto Bupati Dan Wakil Bupati Lebak yang sudah dibingkai.

“Saya hanya menda­pat perin­tah untuk mengosong­kan ru­mah aspirasi ini, karena diduga dipakai sebagai kantor memverifikasi para PNS yang ingin naik jabatan atau mutasi,” kata petugas yang enggan menyebutkan namanya. 

Gedung sebelumnya dikenal sebagai kantor relawan kam­panye pasangan Hasbi–Amir tersebut merupakan bangunan milik Mulyadi Jayabaya (JB) yang juga ayah kandung Bupati Lebak Hasbi Jayabaya. 

JB saat dikonfirmasi war­tawan mengaku mengambil keputusan itu setelah me­nerima berbagai laporan ter­kait aktivitas yang dinilai tidak semestinya. “Betul, rumah aspirasi itu saya tutup karena sering dipakai hal-hal yang tidak benar,” tegas JB.

Ia mengaku kerap mendapat laporan adanya pejabat peme­rintah menggunakan ken­daraan dinas berpelat merah yang datang dan berkumpul di lokasi tersebut.

Menurut JB, bahkan ada laporan dari sejumlah tokoh masyarakat bahwa pihak yang ingin bertemu dengan Bupati Lebak harus melalui relawan yang mengelola rumah aspirasi.

JB juga menyoroti keberada­an relawan politik yang masih aktif setelah Pilkada selesai.

Menurut mantan Bupati Lebak dua periode itu, relawan seharusnya membubarkan diri setelah kontestasi politik usai.

“Di berbagai daerah, setelah selesai Pilkada, para relawan itu harus membubarkan diri, bukannya terus eksis,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan relawan yang terus berada di sekitar kepala daerah justru dapat mengganggu kewiba­waan pemerintahan.

Sementara itu, relawan Tim Aspirasi Hasbi Jayabaya, Badri mengaku baru mengetahui kabar penyegelan gedung tersebut dari pemiliknya.

“Saya baru tahu dari Bapak kalau rumah aspirasi ditutup. Memang benar gedung itu milik Pak JB,” paparnya. 

Badri menjelaskan bahwa rumah aspirasi tersebut sebenarnya sudah berdiri sekitar 10 tahun lalu sejak Hasbi masih menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Komisi VIII.

Sumber: