Kisah Ustaz Solihin Merangkul Mereka yang Termarjinalkan, Lentera Harapan di Wanakerta

Minggu 28-12-2025,20:56 WIB
Reporter : Zakky Adnan
Editor : Andi Suhandi

TANGERANGEKSPRES.ID, Di sebuah sudut Desa Wanakerta, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Banten, sayup-sayup terdengar suara zikir dan tawa kecil dari sebuah bangunan sederhana.

 

Di sinilah, sejak tahun 2020, Ustaz Ahmad Solihin mendedikasikan hidupnya untuk menjadi 'tangan' bagi mereka yang sering kali dianggap tak ada oleh dunia, yakni para pengidap gangguan jiwa, kaum telantar, hingga mereka yang terjerat candu obat-obatan.

 

​Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Benteng Darul Iman yang dikelolanya bukan sekadar tempat rehabilitasi. Bagi 22 pasien yang kini bernaung di sana, tempat ini adalah rumah terakhir saat 'pintu-pintu lain' tertutup rapat.

 

​Di tengah mahalnya biaya pengobatan medis dan rehabilitasi komersial, Ustaz Solihin, begitu ia akrab disapa, memilih jalan yang berbeda. Ia mendedikasikan hidupnya bagi para pasiennya.

 

​"Hampir 90 persen dari mereka adalah orang-orang yang tidak mampu. Sangat sulit bagi mereka jika harus berobat ke tempat komersial," ungkap Ustaz Solihin, dengan nada suara yang rendah, namun penuh ketulusan saat ditemui wartawan, belum lama ini.

 

​Sejak empat tahun lalu, ia telaten merawat satu per satu pasiennya. Baginya, setiap orang yang datang membawa luka batin dan fisik yang harus disembuhkan dengan kasih sayang serta pendekatan spiritual.

 

​Namun, niat tulus saja terkadang tak cukup untuk mengisi piring-piring kosong atau menyediakan butiran obat penyembuh. Ustaz Solihin mengakui bahwa mengelola LKS ini bukanlah perkara mudah. Keterbatasan dana menjadi tantangan yang ia hadapi setiap hari.

 

​"Harapan saya banyak. Saya masih memiliki banyak kekurangan dalam segala hal, terutama untuk konsumsi harian mereka dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan untuk proses penyembuhan," tuturnya, sambil menatap kosong, seolah membayangkan kebutuhan para santri rehabilitasinya yang kian mendesak.

 

​Baginya juga, yang paling mendesak saat ini adalah fasilitas tempat tinggal agar lebih layak bagi para pasien. Ia pun membuka pintu bagi para donatur yang ingin menyisihkan rezeki untuk membantu operasional yayasan.

 

​Meski terus berjuang, Ustaz Solihin menyimpan secercah harapan pada pemerintah. Ia berharap lembaga-lembaga sosial akar rumput seperti miliknya mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam hal bantuan fasilitas dan dukungan operasional.

 

​"Tolong dilihat lembaga-lembaga seperti kami ini. Terutama bantuan untuk fasilitas tempat dan kebutuhan mendasar lainnya," harapnya.

 

Di balik perjuangannya, Ustaz Solihin tetap merasa syukur karena tidak benar-benar sendirian. Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang selama ini telah mengulurkan tangan, termasuk BMI

 

(Benteng Mikro Indonesia), Dinas Sosial Kabupaten Tangerang, serta rekan media yang membantu menyuarakan kisah para pasiennya.

 

​"Terima kasih kepada semua pihak yang selama ini membantu saya menanggulangi orang-orang telantar di jalanan dan mereka yang kecanduan obat-obatan," tutupnya,.dengan senyum tipis yang sarat akan harapan.

 

​Di Desa Wanakerta, perjuangan Ustaz Solihin adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kemanusiaan tidak butuh tarif, ia hanya butuh hati yang rela berbagi. (*)

Kategori :