diskominfo
BJB FEBRUARI 2026

Wangi Cuan dari Oven Dhea Cake, Memanen Berkah Lebaran di Jantung Kota

Wangi Cuan dari Oven Dhea Cake, Memanen Berkah Lebaran di Jantung Kota

Anna Sidharta, pemilik Dhea Cake, bersama beragam kemasan kue nastarnya.(Abdul Aziz Muslim/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Aroma mentega dan selai nanas yang manis menyeruak dari sebuah rumah produksi Dhea Cake di Jalan Sukamanah 3, Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang. Di balik pintu, kesibukan pekerja terlihat luar biasa di tengah ”Demam” Lebaran yang sudah mulai memuncak meski Idulfitri 1447 Hijriah masih beberapa pekan lagi.

Bagi Anna Sidharta, pemilik Dhea Cake, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan penuh peluh yang berbuah manis. Sejak awal puasa, pesanan kue kering klasik seperti nastar, kastangel, lidah kucing, hingga putri salju mengalir tanpa henti.

Kue-kue produksi Anna bukan sekadar cemilan dalam toples. Ia mengemasnya menjadi parsel cantik yang memikat mata. Strategi ini terbukti ampuh menarik minat berbagai kalangan.”Tahun ini pesanan cukup banyak. Selain pembeli loyal yang selalu kembali setiap tahun, pesanan dari korporasi dan hotel juga terus masuk,” ujar Anna saat ditemui dengan raut syukur di sela kesibukannya.

Anna membandrol kemasan kuenya dengan harga beragam, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp800 ribu perk paketnya. ”Variabelnya tergantung jumlah toples dan dimensi parsel,” ujarnya.

Dhea cake telah memiliki pelanggan sejak belasan tahun, mulai dari perorangan, perkantoran  hingga hotel berbintang seperti Hotel Mercure. ”Ada juga pelanggan yang baru,” katanya 

Skala produksi Dhea Cake tahun ini terbilang fantastis. Bayangkan saja, untuk memenuhi permintaan nastar yang menjadi primadona, Anna mesti menyiapkan sekitar seribu buah nanas. Belum lagi penggunaan telur yang mencapai 500 butir setiap harinya.

Meski ada kenaikan harga bahan baku yang memaksa harga jual sedikit terkerek, Anna mengaku para pelanggan setianya tak keberatan. Kualitas rasa nampaknya tetap menjadi alasan utama mereka bertahan.

Di balik tumpukan toples tersebut, ada ”tangan-tangan dingin” 21 pekerja yang bahu-membahu. Anna sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Dengan upah Rp110.000 per hari, ia mengatur ritme kerja agar kesehatan pekerjanya tetap terjaga di tengah tenggat waktu yang ketat.”Kalau ramai begini, saya atur waktu kerja dan istirahat mereka agar pesanan selesai tepat waktu dan kualitas tetap terjaga,” jelas Anna.

Bisnis musiman ini memang menjanjikan. Dalam waktu satu bulan saja, menurut Anna, omsetnya bisa menembus angka Rp400 juta. Namun, bagi Anna, bisnis bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi juga tentang berbagi kebahagiaan.

Ia memutuskan untuk membatasi waktu produksi hingga tanggal 17 Maret 2026. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan.”Saya ingin memastikan semua pesanan terkirim, tapi di sisi lain, para pekerja saya juga harus punya waktu yang cukup untuk bersiap dan pulang ke kampung halaman untuk berlebaran,” tutupnya.(ziz)

Sumber: