BJB FEBRUARI 2026

Tahun Ini Kasus Stunting Ditarget Turun Jadi 8 Persen

Tahun Ini Kasus Stunting Ditarget Turun Jadi 8 Persen

Kepala Dinas Kesehatan Ko­ta Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Pemkot Tangsel terus berupaya menekan ang­ka kasus stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada balita. Dike­tahui, angka stunting di Kota Tangsel sempat turun sig­ni­fikan dari 19,9 persen menjadi 9 persen pada 2022. Namun, pada perkembangan terakhir angkanya kembali naik men­jadi 10,5 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Ko­ta Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan data stunting diperbarui setiap enam bulan sekali setelah di­la­kukan penimbangan ba­lita.

“Data stunting itu per enam bulan sekali setelah penimba­ngan. Tapi yang pasti stunting harus kita turunkan dari 10,5 persen itu. Kita terus berupa­ya,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (12/2).

Allin menambahkan, angka terakhir yang tercatat saat ini masih berada di 10,5 persen. Pihaknya juga masih me­nung­gu hasil terbaru dari Survei Status Gizi.

“Angka terakhir 10,5 persen dan dari hasil Survei Status Gizi kita masih menunggu survei lagi. Kita berharap ha­silnya bisa lebih menurun,” tambahnya.

Menurutnya, Pemkot Tangsel telah melakukan berbagai upaya penanganan stunting, mulai dari pelayanan keseha­tan sesuai siklus hidup, pem­berian makanan tambahan, hingga pemantauan stunting di setiap puskesmas, khu­sus­nya bagi ibu hamil.

“Sudah banyak upaya yang kita lakukan, mulai dari pela­yanan sesuai dengan siklus hidup, pemberian makanan tambahan, pemantauan stun­ting di setiap puskesmas untuk ibu hamil,” jelasnya.

Allin berharap pada tahun ini angka stunting dapat kem­bali menurun, dengan target mencapai 8 persen. “Mudah-mudahan tahun ini ada pe­nu­runan, dan target kami tu­­run menjadi 8 persen,” tu­tupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan pihaknya menar­getkan angka stunting dapat terus ditekan hingga mende­kati nol pada 2026. Ia mene­gaskan, target tersebut harus dicapai dengan kerja nyata, bukan hanya laporan admi­nistratif.

“Kalau tahun depan kita ma­sih menemukan kasus ba­ru, artinya kita abai. Kita harus buktikan Tangsel bisa keluar dari radar isu stunting. Sebagai kota maju, masalah ini seha­rusnya sudah selesai,” ujarnya.

Pilar menambahkan, pena­nganan stunting tidak boleh hanya menjadi urusan satu dinas saja, melainkan harus menjadi tanggung jawab selu­ruh elemen masyarakat dan pemerintah hingga tingkat RT dan RW.

“Jadi harus sama-sama me­na­ngani masalah stunting dan tidak ada lagi ego sektoral. Pe­nanganan stunting harusnya sa­tu tim, lurah dan camat ha­rus bisa bergerak untuk me­nangani masalah stunting,” tambahnya.

Menurutnya, lurah dan ca­mat beserta RT dan RW harus lebih proaktif dalam meman­tau kondisi warganya, ter­uta­ma terhadap balita dan ibu hamil. Tak hanya itu, Dinas Kesehatan bersama perangkat daerah lain juga diminta mem­perkuat koordinasi melalui forum diskusi rutin dengan stakeholder terkait.

Pasalnya, stunting erat kai­tannya dengan kondisi eko­nomi keluarga. Sehingga solusi tidak hanya berupa intervensi kese­hatan, namun juga pem­ber­dayaan ekonomi masya­rakat agar keluarga mampu meme­nuhi kebutuhan gizi anak.

Sumber: