BJB FEBRUARI 2026

Pemkab Lebak Klaim Kasus Stunting Turun Drastis

Pemkab Lebak Klaim Kasus Stunting Turun Drastis

Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada DP3AKKB Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah saat diwawancarai wartawan di kantornya belum lama ini. (AHMAD FADILAH/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Pemerintah Ka­bupaten (Pemkab) Lebak meng­klaim jumlah keluarga ri­siko stunting (KRS) me­ngalami penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2022 tercatat men­capai 162.000 keluarga, pada 2025 jumlahnya menurun menjadi 43.088 keluarga.

Tuti Nurasiah, Kepala Bi­dang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada Dinas Pemberdayaan Perem­puan, Perlindungan Anak serta Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Kabupaten Lebak mengatakan, penurunan tersebut tidak terlepas dari intervensi melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

“Penurunan kasus KRS ini merupakan hasil intervensi berbagai pihak melalui pro­gram Genting,” kata Tuti, ke­pada wartawan, di Rang­kasbitung, Kamis (12/2). 

Menurut dia, program Gen­ting merupakan salah satu dari lima program prioritas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam rangka mem­persiapkan Generasi Emas 2045 dan menekan angka stunting.

Kata Tuti, pelaksanaan program tersebut membu­tuhkan dukungan lintas sek­tor, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), BUMN, perusahaan swasta, tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga media.

“Program Genting ini bersi­fat gotong royong. Bukan ha­nya pemerintah yang men­jadi orang tua asuh bagi ke­luar­ga risiko stunting,” ujarnya. 

Dalam pelaksanaannya, lanjut dia, dukungan dapat berupa penghimpunan dana yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Ka­bupaten Lebak. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui relawan Dapur Atasi Stunting (Dahsyat) yang tersebar di desa-desa.

Kata dia, relawan Dahsyat memproduksi makanan ber­gizi dan berprotein untuk didistribusikan kepada ke­luarga risiko stunting, ibu hamil, bayi usia dua tahun (baduta), serta balita.

Tuti menyebutkan, program tersebut menyasar 43.088 keluarga risiko stunting, 4.286 ibu hamil, 14.301 baduta, serta 45.690 balita. Pemberian asupan gizi dilakukan sesuai kondisi pemulihan, mulai 14 hari hingga enam bulan.

“Kami berharap Program Genting dapat terus menekan angka KRS. Jika KRS menurun, maka kasus stunting di Lebak juga dapat ditekan,” ujarnya.

Sementara itu, Amsah (35), warga Rangkasbitung me­ngaku, merasakan manfaat program tersebut. Ia menga­takan dua anaknya yang se­belumnya mengalami gizi kurang kini menunjukkan kondisi yang lebih baik se­telah rutin menerima makan­an dari dapur Dahsyat.

“Kami merasa lega karena anak-anak kini lebih sehat setelah mendapatkan makan­an bergizi,” ucapnya. (fad)

Sumber: