Pemkab Lebak Klaim Kasus Stunting Turun Drastis
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada DP3AKKB Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah saat diwawancarai wartawan di kantornya belum lama ini. (AHMAD FADILAH/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mengklaim jumlah keluarga risiko stunting (KRS) mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2022 tercatat mencapai 162.000 keluarga, pada 2025 jumlahnya menurun menjadi 43.088 keluarga.
Tuti Nurasiah, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak serta Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Kabupaten Lebak mengatakan, penurunan tersebut tidak terlepas dari intervensi melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
“Penurunan kasus KRS ini merupakan hasil intervensi berbagai pihak melalui program Genting,” kata Tuti, kepada wartawan, di Rangkasbitung, Kamis (12/2).
Menurut dia, program Genting merupakan salah satu dari lima program prioritas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam rangka mempersiapkan Generasi Emas 2045 dan menekan angka stunting.
Kata Tuti, pelaksanaan program tersebut membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), BUMN, perusahaan swasta, tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga media.
“Program Genting ini bersifat gotong royong. Bukan hanya pemerintah yang menjadi orang tua asuh bagi keluarga risiko stunting,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, lanjut dia, dukungan dapat berupa penghimpunan dana yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lebak. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui relawan Dapur Atasi Stunting (Dahsyat) yang tersebar di desa-desa.
Kata dia, relawan Dahsyat memproduksi makanan bergizi dan berprotein untuk didistribusikan kepada keluarga risiko stunting, ibu hamil, bayi usia dua tahun (baduta), serta balita.
Tuti menyebutkan, program tersebut menyasar 43.088 keluarga risiko stunting, 4.286 ibu hamil, 14.301 baduta, serta 45.690 balita. Pemberian asupan gizi dilakukan sesuai kondisi pemulihan, mulai 14 hari hingga enam bulan.
“Kami berharap Program Genting dapat terus menekan angka KRS. Jika KRS menurun, maka kasus stunting di Lebak juga dapat ditekan,” ujarnya.
Sementara itu, Amsah (35), warga Rangkasbitung mengaku, merasakan manfaat program tersebut. Ia mengatakan dua anaknya yang sebelumnya mengalami gizi kurang kini menunjukkan kondisi yang lebih baik setelah rutin menerima makanan dari dapur Dahsyat.
“Kami merasa lega karena anak-anak kini lebih sehat setelah mendapatkan makanan bergizi,” ucapnya. (fad)
Sumber:

