Peristiwa Pertempuran Lengkong, Mayor Daan Mogot Teladan Bagi Generasi Muda
Adik kandung Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Hashim Djojohadikusumo saat berziarah di Taman Makam Pahlawan Taruna, Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang, belum lama ini. Hal itu untuk mengenang perjuangan pa--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Peristiwa Lengkong menjadi catatan penting bagi sejarah Bangsa Indonesia. Di awal Indonesia merdeka, bahwa pada 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot yang masih muda belia memimpin puluhan Taruna Akademi Militer Tangerang, untuk mendatangi markas tentara Jepang di Desa Lengkong. kecamatan Serpong, Tangerang Selatan.
Mayor Daan Mogot didampingi sejumlah perwira, antara lain Mayor Wibowo, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebianto Djojohadikusumo bersama puluhan Taruna Akademi militer yang pertama di Indonesia menyambangi markas tentara Jepang bertujuan untuk melucuti senjata pasukan Jepang.
Perundingan dengan pihak Tentara Jepang yang saat itu dipimpin oleh Kapten Abe, dilakukan oleh Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo dan seorang Taruna Akademi Militer Tangerang. Awalnya, perundingan berjalan lancar, namun tiba tiba terdengar letusan senjata dan rentetan mitraliur yang entah datang darimana berujung pada terjadinya pertempuran tak seimbang.
Pertempuran itu berakhir dengan tewasnya 34 taruna dan 3 perwira Tentara Republik Indonesia (TRI), yaitu Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo. Sedangkan Mayor Wibowo dan lebih dari 20 Taruna lainnya ditawan oleh Tentara Jepang.
”Awalnya berlangsung lancar, kemudian terjadi insiden letusan senjata dan mitraliur dari arah tersembunyi. Pertempuran yang tak seimbang mengakibatkan banyak korban berjatuhan dari pihak Indonesia, di mana 33 taruna dan 3 perwira gugur, serta 1 taruna lainnya wafat setelah sempat dirawat di rumah sakit,” cerita Rani D. Sutrisno, selaku Ketua Yayasan 25 Januari 1946, saat ditemui Tangerang Ekspres belum lama ini. ”Perwira yang gugur adalah Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo. Peristiwa berdarah kini dikenal sebagai Peristiwa Pertempuran Lengkong,” sambungnya.
Pasukan tentara yang masih muda belia nan gagah berani rela mengorbankan jiwa, raga dan nyawanya untuk mengusir dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. ”Tentara-tentara yang masih muda itu mewariskan teladan kepada kita. Cinta tanah air, semangat pantang menyerah ini yang harus kita tanamkan pada generasi sekarang,” tegas Rani.
Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong kerap digelar setiap tahunnya sejak 1947 hingga saat ini. Yayasan 25 Januari mendapatkan pesan dari para saksi sejarah agar Peristiwa Pertempuran Lengkong selalu dikenang rakyat Indonesia.”Para saksi sejarah meminta agar upacara atau peringatan ini tidak terputus. Pada saat pandemi covid pun kami tetap mengadakan secara kecil-kecilan,” kata Rani.
Rani bersama keluarga pahlawan, melalui Yayasan 25 Januari dan Himpunan Sahabat Sejarah dengan gigihnya berupaya menyosialisasikan untuk mengenalkan sejarah Peristiwa Pertempuran Lengkong, khususnya bagi pelajar. Yayasan 25 Januari dan Himpunan Sahabat Sejarah kerap memasuki lembaga pendidikan guna mengenalkan sejarah Pertempuran Lengkong.
Usahanya pun tak sia-sia, sejarah Peristiwa Pertempuran Lengkong pun, mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Pada 2005 lalu, berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, melalui lewat Surat Telegram KSAD Nomor ST/12/2005 bertanggal 7 Januari 2005, ditetapkan sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.
Meski telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, sosialisasi penguatan sejarah teladan para tentara yang masih muda belia dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini tak henti-hentinya digaungkan.”Sosialisasi kami sejak 20 tahun lalu rasanya nggak sia-sia. Dulu ada siswa-siswa yang bertanya tentang Jalan Daan Mogot, saya pengen nangis. Bu, Daan Mogot itu apa sih? Bukan siapa loh ya, tapi apa. Waktu itu saya bersama pak Wali kota Jakaria Mahmud. Sekarang saya bangga, kalau datang ke sini anak-anak sekolah yang nanya, siapa sih Daan Mogot. Udah pakai kata siapa, bukan apa. Saya senang, kita jelaskan. Akhirnya mereka tahu siapa Daan Mogot itu,” papar Rani.
”Terima kasih Pemerintah Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, terus mendukung kami dalam menyosialisasikan sekaligus penyelenggaraan peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong secara rutin,” sambungnya.
Menurut Rani, peringatan Peristiwa Lengkong di Kota Tangerang biasanya dilaksanakan setiap 25 Januari. Namun, Akademi Militer Magelang sejak 2007 hingga sekarang menggelar upacara Nasional peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong pada 25 Januari. Pihak Yayasan 25 Januari dan Himpunan Sahabat Sejarah bersama pemerintah daerah berniat menggeser hari peringatan tersebut.
Peringatan Peristiwa Lengkong kerap digelar setiap tahunnya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna, Kota Tangerang itu kerap dihadiri oleh keluarga para pahlawan seperti dari keluarga besar Presiden Prabowo Subianto, keluarga besar Mayor Daan Mogot, keluarga H Agus Salim, keluarga besar Al Haddad dan keluarga para pahlawan lainnya.
”Keluarga besar Daan Mogot tentunya itu yang paling banyak, kemudian keluarga pahlawan lainnya, yang bisa kami hubungi pasti kami hubungi. Sayangnya, dari 20 tahun yang lalu saya melacak melacak yang lainnya saya nggak bisa, jadi gak komplit, paling banyak saya dapat waktu itu seingat saya 21 atau ada 26 keluarga,” paparnya
Sumber:

