BJB

Waspadai ISPA Hingga Leptospirosis, Mulai Peralihan Musim

Waspadai ISPA Hingga Leptospirosis, Mulai Peralihan Musim

Plt. Kepala UPTD Puskesmas Pamulang Ratu Wulandari.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Peralihan musim kemarau ke musim hujan perlu diwaspadai masyarakat. Pasalnya, perubahan cuaca tersebut berpotensi meningkatkan risiko sejumlah penyakit, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, demam berdarah dengue (DBD) hingga leptospirosis.

Plt. Kepala UPTD Puskesmas Pamulang Ratu Wulandari mengatakan, beberapa penyakit tersebut cenderung meningkat saat terjadi perubahan musim. Kondisi lingkungan yang lembap, genangan air hingga meningkatnya populasi nyamuk dan tikus dapat menjadi faktor pemicu penyebaran penyakit.

"Kalau pergantian musim seperti ini, penyakit yang sering meningkat biasanya ISPA, influenza, DBD, atau kalau terjadi banjir dan banyak tikus, itu juga bisa menyebabkan leptospirosis," ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (4/11).

Ratu menambahkan, masyarakat perlu melakukan langkah pencegahan sejak dini agar tidak mudah terserang penyakit. Salah satu hal terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh atau imunitas.

Caranya dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan tidur, serta rutin berolahraga. "Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap prima menghadapi perubahan cuaca," tambahnya.

Selain menjaga imunitas, pencegahan DBD juga perlu dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Masyarakat diminta rutin membersihkan lingku­ngan rumah, terutama tempat-tempat yang berpotensi menjadi genangan air.

"Untuk mencegah DBD, berarti kita harus melakukan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk. Jadi, rutin membersihkan lingkungan, terutama di rumah yang ada genangan air. Jangan sampai ada jentik nyamuk di sana," jelasnya.

Ratu menambahkan, penyakit akibat perubahan musim sebenarnya dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia (lansia). Namun, anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Terkait kebiasaan anak bermain hujan-hujanan, menurutnya, hal tersebut tidak selalu berbahaya. Namun, masyarakat perlu memperhatikan lokasi anak bermain, terutama jika terdapat genangan air yang kotor atau tercemar.

Genangan air yang terkontaminasi kotoran maupun urine tikus berpotensi menjadi sumber penularan leptospirosis. "Selain itu, kondisi lingkungan dan air yang tidak bersih juga dapat meningkatkan risiko penyakit diare," ungkapnya.

"Kalau cuma main hujan saja harusnya tidak masalah. Tapi kalau bermain hujan di genangan air yang kotor, ada sampah atau kemungkinan urine tikus, itu yang bisa menyebabkan leptospirosis. Anak juga bisa mengalami diare," ungkapnya," tuturnya.

Wanita berkerudung ini menyebutkan, konsumsi vitamin dapat menjadi salah satu pendukung untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, hal yang paling utama tetap menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan langkah pencegahan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan dan mengurangi risiko terserang penyakit selama masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. (bud/esa)

Sumber: