BJB

DBD Serang 1.664 Warga Tangerang

DBD Serang 1.664 Warga Tangerang

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi.(Asep/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Ancaman demam berdarah dengue (DBD) masih menghantui Kabupaten Tangerang. Hingga Oktober 2026, sebanyak 1.664 warga tercatat terjangkit penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Kasusnya menyebar di 22 dari 29 kecamatan, sehingga pemerintah daerah diminta tidak lengah menghadapi peningkatan risiko penularan saat memasuki musim penghujan.

Meski jumlah kasus mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, penyebaran DBD yang menjangkau sebagian besar wilayah Kabupaten Tangerang tetap menjadi perhatian. Terlebih, perubahan musim berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk pembawa virus dengue.

Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid meminta Dinas Kesehatan bersama jajaran kecamatan, kelurahan, desa, dan puskesmas memperkuat langkah pencegahan. Menurutnya, pemberantasan sarang nyamuk tidak boleh baru dilakukan setelah ditemukan warga yang terjangkit.

“Kita tidak boleh lengah karena DBD merupakan penyakit yang perlu diwaspadai. Terutama setelah memasuki musim hujan dan pada masa setelahnya. Saya minta kecamatan hingga desa bersama puskesmas menggencarkan pencegahan DBD,” ujarnya, Rabu (4/11).

Ia juga meminta masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar kegiatan insidental ketika kasus mulai bermunculan.

“Jangan menunggu sampai ada kasus baru melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Kita harus mengutamakan langkah pencegahan melalui gerakan 3M Plus,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan, dari 29 kecamatan, hanya tujuh wilayah yang hingga Oktober belum melaporkan kasus DBD. Ketujuh kecamatan tersebut yakni Gunung Kaler, Kronjo, Kresek, Mauk, Sukadiri, Sepatan, dan Pakuhaji.

Sementara itu, kasus di 22 kecamatan lainnya tersebar dengan jumlah yang bervariasi. Hendra menyebut tidak ada satu kecamatan yang mendominasi jumlah kasus.

“Per kecamatan di 22 kecamatan ini ada yang satu atau dua kasus. Tersebar merata, tidak ada yang dominan,” jelasnya kepada Tangerang Ekspres.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, jumlah kasus DBD pada 2026 memang lebih rendah dibandingkan 2025 yang mencapai 2.490 kasus. Dalam tiga bulan terakhir, tren kasus juga menunjukkan penurunan. Pada Agustus tercatat 97 kasus, September 77 kasus, dan Oktober 75 kasus.

Meski demikian, penurunan tersebut belum menghilangkan ancaman penularan. Sebab, sepanjang Januari hingga Oktober, jumlah warga yang terjangkit masih mencapai 1.664 orang.

Hendra menjelaskan, DBD merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti maupun Aedes albopictus yang terinfeksi.

Untuk menekan penyebaran, Dinas Kesehatan bersama puskesmas dan posyandu terus mengintensifkan pemberantasan jentik melalui kader DBD. Masyarakat juga diminta rutin menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Upaya tersebut diperkuat dengan langkah plus, antara lain mencegah gigitan nyamuk dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Sumber: