BJB NOVEMBER 2025

Puluhan Warga Batuceper Terjangkit DBD

Puluhan Warga Batuceper Terjangkit DBD

Petugas Puskesmas Batusari, Adiyaksa tengah menunjukan data penanganan kasus DBD, Selasa 6 Januari 2026.-Abdul Aziz Muslim/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, BATU CEPER — Puluhan War­ga di dua Kelurahan di Kecamatan Batuceper Ter­jangkit penyakit Demam Ber­darah Dengue (DBD), penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Sebaran penyakit DBD yang dinilai cukup tinggi di dua Kelurahan tersebut yakni Ke­lu­rahan Batusari dan Kelu­rahan Batujaya, Kecamatan Batuceper

Warga RT 02 RW 06 Kelura­han Batusari, Bahrul Hikam mengatakan, dalam pekan ini lingkungan dekat rumahnya se­banyak lima orang terjangkit DBD

Menurut Bahrul, tiga orang telah dinyatakan sembuh, se­dangkan dua warga lainnya hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

”Didekat rumah saya saja ada lima orang terkena DBD, tapi tiga orang sudah pulih atau sembuh, dua orang lagi masih dirawat di rumah sakit. Sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Dr Sitanala Tangerang, namun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Dr Cipto Ma­ngun­kusumo,” ungkap Bahrul saat dihubungi, 6 Desember 2026.

”Ini tentu jadi keprihatinan bersama,” sambungnya.

Menurut Bahrul, adanya be­berapa warga di wilayahnya terjangkit penyakit DBD dinilai cukup mengkhawatirkan. Se­bab, sejak bulan Desember 2025 musim hujan dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi cuaca yang ekstrem tersebut seha­rusnya dilakukan antisipasi dengan kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan secara rutin untuk mencegah munculnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD.

“Dalam kondisi musim hujan seperti ini, kerja bakti dan pembersihan lingkungan itu sangat penting. Itu langkah dasar untuk memutus rantai penyebaran DBD. Tapi fakta­nya, tidak ada sama sekali kegiatan pencegahan yang dijalankan oleh RT dan RW,” beber Bahrul.

Bahrul menilai, absennya upaya pencegahan tersebut berdampak langsung pada meningkatnya kasus DBD di lingkungan warga. Beberapa korban bahkan harus menja­lani perawatan intensif di ru­mah sakit akibat kondisi yang cukup serius.

Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, lanjut Bah­rul, pemuda setempat ak­hirnya mengambil inisiatif untuk bergerak. Dia bersama rekan-rekan pemuda melaku­kan komunikasi dan menyam­pai­kan laporan langsung ke­­pada pihak kelurahan pada Senin, 5 Januari 2026, agar persoalan tersebut segera di­tindaklanjuti.

“Kami sebagai pemuda tidak bisa diam. Kemarin kami lang­sung melapor ke lurah dan jajarannya supaya masa­lah ini bisa segera ditangani dan dikoordinasikan sampai ke RT dan RW,” ujarnya.

Bahrul menyebut, laporan tersebut kemudian ditindak­lanjuti. Pada hari ini, Selasa, 6 Januari 2026, perangkat ke­lurahan bersama pihak pus­kesmas melakukan penin­jauan langsung ke lokasi untuk melihat kondisi lingkungan dan potensi penyebaran DBD di wilayah RT 02 RW 06.

Namun dalam pelaksanaan peninjauan tersebut, menurut Bahrul, tidak adanya pendam­pingan yang seharusnya dila­kukan oleh pihak RT maupun RW setempat.

“Saat peninjauan dari kelu­rahan dan puskesmas, kami lihat RT dan RW tidak hadir. Tidak ada pendampingan sama sekali. Akhirnya koor­dinasi di lapangan kembali tidak berjalan optimal,” ujar­nya.

Sumber: