Panggil Bupati Lebak, Andra Minta Jaga Sinergitas
WAWANCARA: Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya saat diwawancarai awak media usai keluar dari kantor Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Selasa (31/3).(Syirojul Umam/Tangerang Ekspres)--
Ia menegaskan, perbedaan pandangan dalam menentukan arah pembangunan merupakan bagian dari dinamika kepemimpinan. Namun, konflik yang berkepanjangan justru berpotensi mengganggu jalannya birokrasi, menghambat pelayanan publik, serta memperlambat pembangunan daerah.“Pemimpin boleh berbeda cara, tetapi tidak boleh sampai menimbulkan konflik serius yang berdampak luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus segera disudahi mengingat masa kepemimpinan Hasbi Amir masih menyisakan waktu sekitar empat tahun. Ia mengajak kedua pemimpin daerah tersebut untuk kembali bersatu, memperbaiki kekurangan, dan menyempurnakan capaian yang telah diraih.
Juwita juga menyampaikan optimismenya bahwa situasi ini dapat diselesaikan jika kedua belah pihak kembali pada tujuan awal, yakni mewujudkan Lebak yang rukun, unggul, hegar, aman, dan penuh keyakinan.“Kata ‘rukun’ dalam visi itu harus benar-benar diwujudkan. Dari situlah akan lahir Lebak yang unggul, hegar, aman, dan yakin bisa terus berkembang,” paparnya.
Wakil ketua DPRD Lebak Yanto menambahkan, upaya mempertemukan kedua pemimpin tersebut diharapkan menjadi titik awal rekonsiliasi demi menjaga stabilitas pemerintahan dan keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Lebak.
Menyikapi dinamika yang terjadi pasca kegiatan Halal Bihalal Pemerintah Kabupaten Lebak. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Lebak menyampaikan tanggapan resminya melalui Ketua DPC PDIP Kabupaten Lebak, Junaedi Ibnu Jarta, mengajak seluruh partai politik pengusung dan pendukung, serta elemen masyarakat untuk merespon situasi ini dengan kepala dingin.
“Kami meminta semua pihak untuk tetap tenang. Jangan biarkan opini liar mengaburkan fokus kita pada pembangunan daerah. Kita harus berdiri tegak di atas kepentingan rakyat Lebak, melampaui ego kelompok maupun golongan,” terang Junaedi dalam keterangan resminya.
Junaedi menegaskan, bahwa situasi saat ini harus diredakan bersama. Menurutnya, tugas utama seluruh elemen adalah menjaga suasana yang kondusif demi kelancaran pemerintahan, bukan justru menambah keruh suasana.“Mari kita turunkan tensi, hentikan polemik yang tidak produktif. Tugas kita adalah membangun suasana yang sejuk, bukan menambah keruh suasana dan kegaduhan,” katanya.
Junaedi menyebut, dinamika ini sebagai momentum untuk introspeksi diri dan perbaikan sistem komunikasi ke depannya. Ia menekankan bahwa kesalahpahaman yang terjadi tidak boleh merusak soliditas yang sudah dibangun.“Tidak ada gading yang tak retak, namun, kekhilafan harus menjadi pintu bagi perbaikan komunikasi ke depan. PDI Perjuangan Kabupaten Lebak menegaskan bahwa kami tetap solid dan tegak lurus mengawal kepemimpinan pasangan Bupati Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Wakil Bupati Amir Hamzah. Kita akan mengawal pasangan ini hingga tuntas masa jabatannya demi mewujudkan visi dan misi,” tegasnya.
Inisiasi Pertemuan Seluruh Parpol Koalisi
Sebagai langkah konkret, DPC PDIP Kabupaten Lebak berencana menginisiasi pertemuan dengan seluruh partai politik yang tergabung dalam koalisi. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi dan kembali mempererat hubungan antar elemen pemerintahan.“Kita perlu duduk bersama, menyamakan frekuensi, dan hadir di tengah-tengah situasi ini dan menjadi perekat kembali untuk pasangan Bupati dan Wakil Bupati. Kekuatan kita terletak pada persatuan. Jika koalisi solid, maka pemerintahan akan stabil, dan rakyatlah yang akan memetik manfaatnya,” tandas Junaedi.
Ketua PMII kabupaten Lebak, Muhamad Nurajimanto juga menilai, acara halal bihalal seharusnya menjadi refleksi penting bagi pemerintah daerah. Ditengah berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, konflik personal seperti ini justru menunjukkan bahwa fokus utama belum sepenuhnya diarahkan pada kemajuan daerah.
Alih-alih memperlihatkan soliditas dan komitmen dalam membangun Lebak, yang muncul ke publik justru dinamika internal yang bernuansa saling serang.
”Padahal, masyarakat lebih membutuhkan kerja nyata mulai dari peningkatan ekonomi, pendidikan, hingga kesejahteraan sosial bukan polemik yang tidak produktif,” kata Nurajimanto, kepada wartawan, Selasa 31 Maret 2026.
Menurut dia, momentum kebersamaan seperti Halal Bihalal seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antar pemimpin daerah. Namun jika yang terjadi justru konflik, maka wajar jika publik mempertanyakan arah dan prioritas kepemimpinan saat ini.
Sumber:

