Luas Panen Padi Diproyeksi Naik 32 Persen
Gubernur Banten Andra Soni berfoto bersama saat acara Panen Raya.--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat, berdasarkan hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi di Banten diproyeksikan mengalami kenaikan hingga 32,78 persen atau mencapai 134,70 ribu hektare pada periode Januari hingga Maret 2026.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Banten, Saeful Hidayat, mengatakan sepanjang tahun 2025, Banten mencatatkan luas panen mencapai 345,42 ribu hektare, atau tumbuh 15,49 persen dibandingkan tahun 2024. Kondisi ini akan berlanjut pada periode awal tahun ini.
"Untuk periode Januari-Maret 2026, kami melihat adanya potensi peningkatan luas panen sebesar 32,78 persen atau setara dengan penambahan lahan panen seluas 33,25 ribu hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu," katanya, Selasa (10/2).
"Jumlah ini mengalami kenaikan sekitar 33,26 ribu hektare dibandingkan luas panen padi pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 101,44 ribu hektare," tambahnya.
Ia mengatakan, puncak panen padi pada 2025 mengalami pergeseran ke Maret, dari sebelumnya terjadi pada April 2024. Luas panen padi pada Maret 2025 adalah sebesar 72,00 ribu hektare, sedangkan pada April 2024 luas panen padi mencapai 63,09 ribu hektare.
"Kalau dibandingkan tahun lalu mengalami kenaikan sebesar 46,33 ribu hektare atau naik 15,49 persen," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Banten, Agus M. Tauchid, merinci bahwa potensi produksi gabah di awal tahun ini diperkirakan mencapai angka yang sangat melimpah, yakni 768.132 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Kekuatan pangan Banten saat ini bertumpu kokoh pada empat kabupaten utama yang menjadi penyokong utama stok beras daerah. Kabupaten Pandeglang masih memegang status sebagai lumbung terbesar dengan lahan seluas 54.480 hektare, disusul Kabupaten Lebak, Serang, dan Tangerang.
"Potensi produksi gabah kita sangat melimpah awal tahun ini, mencapai 768.132 ton GKG. Kekuatan utama kita ada di Pandeglang yang menyumbang 282.640 ton, lalu Lebak 202.987 ton, Serang 155.944 ton, dan Tangerang 104.212 ton. Sisanya tersebar di daerah lain," tuturnya.
Ia mengaku, tahun lalu produksi padi mencapai 1,80 juta ton, atau naik sekitar 250 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Banten yang hanya sekitar 123.643 ton per bulan.
Kenaikan produksi ini tidak terlepas dari berbagai program peningkatan sektor pertanian yang dijalankan pemerintah pusat dan daerah. Salah satunya adalah program irigasi dan pompanisasi yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Program tersebut menyasar daerah lumbung padi di Banten seperti Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Serang.
Melalui program ini, petani di berbagai wilayah tetap mendapatkan suplai air yang cukup meski di tengah musim kemarau. Kondisi tersebut menekan risiko gagal tanam maupun gagal panen. Dengan begitu, Banten diyakini dapat menjadi daerah swasembada pangan.
"Alhamdulillah pompanisasi dari Kementan ini telah dirasakan langsung oleh para petani. Mereka tidak lagi mengkhawatirkan risiko gagal panen saat musim kemarau karena ketersediaan air sudah mencukup," ungkapnya. (mam)
Sumber:

