BJB FEBRUARI 2026

BPS: Luas Panen dan Produksi Padi Meningkat

BPS: Luas Panen dan Produksi Padi Meningkat

Kepala BPS Banten, Yusniar Juliana dan jajarannya melakukan kunjungan ke Gubernur Banten Andra Soni di kantornya, KP3B, Kota Serang, belum lama ini. (PEMPROV BANTEN FOR TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat berdasarkan hasil survei realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 345,42 ribu hektare. Hal tersebut mengalami kenaikan sebesar 46,33 ribu hektare atau naik 15,49 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 299,09 ribu hektare. 

Kepala BPS Banten, Yusniar Juliana mengatakan, puncak panen padi pada 2025 mengalami pergeseran ke Maret, dari sebelumnya terjadi pada April 2024. Luas panen padi pada Maret 2025 adalah sebesar 72,00 ribu hektare, sedangkan pada April 2024 luas panen padi mencapai 63,09 ribu hektare.

"Kalau dibandingkan tahun lalu mengalami kenaikan sebesar 46,33 ribu hektare atau naik 15,49 persen," katanya dalam keterangan, Rabu (4/2).

Sementara itu, BPS juga merilis potensi luas panen padi pada Januari-Maret 2026, yakni diperkirakan mencapai 134,70 ribu hektare.

"Jumlah ini mengalami ke­naikan sekitar 33,26 ribu hektare 32,78 persen dibandingkan luas panen padi pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 101,44 ribu hektare," ujarnya.

Peningkatan luas panen ini juga berbanding lurus dengan total produksi padi pada 2025 diperkirakan sebanyak 1,77 juta ton gabah kering giling (GKG), mengalami peningkat­an sebanyak 223,39 ribu ton GKG 14,41 persen diban­dingkan 2024 yang sebanyak 1,55 juta ton GKG. 

Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada Maret, yaitu sebesar 398,69 ribu ton GKG, sementara produksi terendah terjadi pada Januari, yaitu sekitar 20,82 ribu ton GKG.

"Adapun potensi produksi padi pada Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 719,66 ribu ton GKG, atau mengalami kenaikan sekitar 161,43 ribu ton GKG 28,92 persen diban­dingkan produksi padi pada Januari-Maret 2025 yang se­besar 558,23 ribu ton GKG," tuturnya.

Yusniar menyebutkan, tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2025 adalah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Serang. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi (GKG) terendah yaitu Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kota Tangerang.

Peningkatan produksi padi yang cukup besar pada 2025 terjadi di beberapa wilayah sentra produksi padi seperti Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kabu­paten Serang. 

“Di sisi lain, terdapat bebe­rapa kabupaten/kota yang mengalami penurunan produksi padi cukup besar, diantaranya Kota Tangerang dan Kota Cilegon," ungkapnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengatakan, tiga langkah stra­tegis yang tengah ditem­puh pemerintah provinsi untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Fokus utama dari langkah ini adalah memastikan ketersediaan air, pembaruan teknologi benih, serta digitalisasi pertanian.

Ia menjelaskan, bahwa kunci utama keberhasilan panen adalah ketersediaan air yang stabil. Melalui perbaikan dan pembangunan irigasi tersier, pembuatan sumur bor, serta penguatan sistem irigasi perpompaan. Distan Banten berkomitmen memastikan air tersedia bagi petani di setiap musim.

"Tujuannya jelas, kita ingin mewujudkan tata kelola air mikro di tingkat usaha tani. Dengan infrastruktur yang memadai, petani tidak lagi hanya bergantung pada hujan, sehingga masa tanam bisa dilakukan sepanjang tahun," katanya.

Sumber: