BJB NOVEMBER 2025

Pemkot Tangsel Maksimalkan Kerja Sama Sampah dengan Serang

Pemkot Tangsel Maksimalkan Kerja Sama Sampah dengan Serang

Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel mengangkat sampah ke truk di perempatan Viktor, Serpong.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Wali Kota Tang­sel Benyamin Davnie meng­ungkapkan, Tempat Pemro­sesan Akhir (TPA) Cipeucang di Serpong sudah tidak lagi ideal untuk menampung sam­pah Kota Tangsel.

Menurut Benyamin, meski­pun Pemkot Tangsel masih memiliki landfill 3 dan landfill 4 dengan luasan sekitar 8.000 meter persegi, area tersebut ke depan akan difokuskan untuk Material Recovery Fa­cility (MRF), bukan untuk me­nampung sampah baru.

“Faktanya, TPA Cipeucang itu sudah tidak mampu lagi menampung sampah Kota Tangsel. Jadi untuk sampah baru, sudah tidak ideal lagi ditempatkan di sana,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (3/2).

Pria yang biasa disapa Pak Ben ini menambahkan, oleh karena itu pihaknya memba­ngun kerja sama pengelolaan sampah dengan daerah lain. Salah satunya dengan Kota Serang yakni TPA Cilowong, yang saat ini sudah berjalan maksimal.

“Kerja sama dengan Kota Serang itu sekitar 400 ton per hari, bahkan hampir maksimal sampai 500 ton. Tapi idealnya 400 ton,” tambahnya.

Menurutnya, untuk mendu­kung kerja sama tersebut, Pem­kot Tangsel akan menyiap­kan sekitar 100 armada truk sam­pah. Saat ini, Pemda me­miliki 27 truk, ditambah kon­trak de­ngan pihak ketiga se­banyak 42 truk. “Dengan jum­lah itu, sekarang sudah bisa kita mak­simalkan,” jelas­nya.

Pak Ben mengaku, hasilnya mulai terlihat di lapangan. Ia memastikan saat inspeksi ter­akhir, kondisi sampah di median jalan, khususnya di wilayah Ciputat, sudah jauh lebih tertangani. “Alham­du­lillah kemarin saya inspeksi, sudah tidak ada lagi sampah di median jalan,” tuturnya

Selain kerja sama antar da­erah, Pak Ben juga menekan­kan pentingnya peran masya­rakat dalam pengelolaan sam­pah, khususnya melalui prog­ram biopori. Ia menar­getkan pembuatan 10.000 hing­ga 20.000 lubang biopori di seluruh rumah tangga di Kota Tangsel.

“Target minimal saya 10.000 sampai 20.000 lubang biopori. Satu kelurahan mudah-mu­dahan bisa 500, bahkan kalau bisa 1.000,” ungkapnya.

Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Tangsel me­nyiapkan mesin pembuat lu­bang biopori. Setiap kelura­han nantinya akan memiliki tujuh mesin, terdiri dari dua mesin yang disiapkan kelu­rahan dan lima mesin dari Dinas Cipta Karya. “Jadi nanti tiap kelurahan ada tujuh mesin biopori. Pera­lon murah, pe­ngadaannya bisa mandiri, tapi kalau perlu kita anggarkan di APBD peru­bahan,” katanya.

Sementara itu, tonase pe­ngangkutan sampah ke TPA Cilowong terus meningkat. Awalnya hanya 10 truk dengan kapasitas 4 ton per truk atau sekitar 40 ton per hari. Angka tersebut kemudian naik men­jadi 30 truk atau 120 ton, dan kini mencapai sekitar 70 truk atau 280 ton per hari. “Itu su­dah cukup menyelesaikan persoalan,” ungkapnya.

Ke depan, Pemkot Tangsel menargetkan 100 truk peng­angkut sampah ke TPA Cilo­wong. Penambahan armada akan dikaji melalui APBD Pe­rubahan atau APBD 2027, sam­bil mempersiapkan kerja sama pengelolaan sampah melalui PSEL dengan daerah lain.

“Tahun ini targetnya 27 truk milik Pemda ditambah 42 truk kontraktual beroperasi. Ritase juga dimaksimalkan, satu truk bisa dua rit per hari,” tutupnya.

Sementara itu, salah seorang warga Ciputat, Soni, berharap Pemkot Tangerang Selatan benar-benar serius dan kon­sisten dalam menangani per­soalan sampah di wilayahnya.

Sumber: