Pekerja Minta Bupati Buka Lagi PT SLI
MINTA DIBUKA: Karyawan PT Sukses Logam Indonesia (SLI) menunjukkan kondisi pabrik yang berhenti beroperasi, Sabtu (31/1/2026).-Pardede/Tangerang Ekspres)-
TANGERANGEKSPRES.ID, BALARAJA — Para pekerja PT Sukses Logam Indonesia (SLI) di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, saat ini nasibnya terkatung-katung. Mereka tidak bisa bekerja menyusul dihentikannya aktivitas pabrik peleburan logam tersebut oleh Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid sejak 17 Oktober 2025 lalu.
Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid, mengaku sejak aktivitas pabriknya dihentikan tiga bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarganya morat-marit. Selama itu juga dia bekerja serabutan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
”(Sejak pabrik ditutup) Saya jaga portal, Bang, di kawasan industri, mencari sesuap nasi,” ungkap Ade Majid saat ditemui di kawasan industri Oleg, Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Sabtu (31/1/2026).
Ade Majid mengaku telah berkeluarga dan dikaruniai tiga anak. Dia sangat membutuhkan biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, terutama makanan yang bergizi.
”Biarlah bapaknya makan apa adanya, tapi tidak buat anak saya, Bang. Mereka harus mendapat asupan yang bergizi,” ujarnya.
Pria bertubuh gempal ini mengaku tidak mengerti dengan kebijakan Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, yang tiba-tiba mengeluarkan surat penghentian sementara aktivitas PT SLI, tempatnya menggantungkan hidup bersama sekitar 110-an pekerja lainnya.
”Katanya pabrik mencemari lingkungan, Bang, tapi lingkungan yang mana? Saya tinggal dekat pabrik, tapi tidak ada pencemaran, kami sehat-sehat saja,” tutur Ade dengan mimik wajah serius.
Untuk membuktikan omongannya, Ade yang saat bekerja menjabat sopir forklift mengajak wartawan untuk melihat kondisi rumahnya yang berdempetan dengan PT SLI. Ade bercerita, sebelum pabriknya ditutup bupati, kala itu dia bersama pekerja lainnya tengah asyik bekerja di bagian produksi. Tiba-tiba pihak manajemen PT SLI memerintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan kegiatan, mesin produksi kemudian dimatikan.
”Kami tanya ke manajemen ada apa ini, kok tiba-tiba kami diminta berhenti. Kata manajemen pabrik, kita ditutup sama bupati,” ungkap Ade Majid dengan mata menerawang tanpa arah.
Ade melanjutkan, manajemen kemudian mengumpulkan seluruh pekerja. Mereka diperlihatkan surat dari Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tanggal 17 Oktober 2025 yang berisi tentang penghentian sementara kegiatan produksi.
”Sudah lebih tiga bulan ini, Bang, kami tidak bekerja, tidak punya uang, kerja serabutan saja. Kadang manajemen PT SLI masih perhatian menyuruh kami bersih-bersih rumput terus dikasih upah, tapi kan tidak selamanya begitu, Bang. Kami ingin bekerja lagi di pabrik ini, anak istri kami butuh makan, Bang,” ujar Ade Majid dengan nada lirih.
Senada diungkapkan Reza Pramudia, pekerja PT SLI bagian pengawas produksi. Ia mengaku heran dengan kebijakan bupati yang dinilainya sepihak dan menghentikan aktivitas pabrik tanpa mempertimbangkan nasib ratusan pekerjanya.
”Yang namanya sementara kan bisa dibuka lagi. Tapi ini sudah tiga bulan, Pak, belum ada tanda-tanda akan dibuka lagi. Kami ingin bekerja lagi, Pak. Keluarga kami butuh makan, kalau tidak dibuka lagi apakah Pak Bupati mau menanggung biaya hidup kami?” tuturnya.
Reza juga mengaku kerja serabutan selama tempatnya bekerja ditutup sementara. Namun hasilnya tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Sumber:

