BJB NOVEMBER 2025

Pedagang Daging Pasar Rau Mogok Berjualan

Pedagang Daging Pasar Rau Mogok Berjualan

KONDISI LAPAK: Kondis lapak pedagang daging sapi di Pasar Induk Rau yang terlihat mogok berjualan imbas harga melonjak tinggi, Selasa (27/1).(Aldi Alpian Indra/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pedagang daging sapi di Pasar Induk Rau, Kota Serang, memilih menghentikan aktivitas jual beli sebagai bentuk protes atas lonjakan harga daging yang dinilai kian memberatkan. Aksi mogok dilakukan sejak pekan lalu hingga hari ini, Selasa (27/1).

Sejumlah lapak daging di pasar tersebut tampak tutup dan tidak beroperasi. Kondisi ini berbeda dari hari biasa, di mana lapak pedagang dipenuhi daging segar untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Aksi mogok pedagang daging di Pasar Induk Rau ini merupakan imbas dari gelombang protes serupa yang sebelumnya terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan wilayah Jabodetabek. Pedagang di Kota Serang menilai persoalan kenaikan harga sapi potong bukan semata isu lokal, melainkan masalah rantai pasok nasional yang berdampak langsung hingga ke pasar daerah.

Ketua Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (Gappenda) Provinsi Banten, Aeng Khaeruzzaman, mengatakan harga sapi potong saat ini sudah melampaui batas kewajaran dan berdampak langsung terhadap harga jual daging di tingkat pedagang.

Ia menyebut, harga daging sapi yang sebelumnya berada di kisaran Rp125 ribu per kilogram kini melonjak hingga Rp135 ribu bahkan mencapai Rp140 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit karena harus berhadapan dengan penurunan daya beli masyarakat. “Kesepakatan mogok ini dilakukan untuk menyampaikan kondisi riil yang dihadapi pedagang, sekaligus sebagai bentuk protes atas kenaikan harga yang terus terjadi,” ujarnya.

Gappenda juga mengimbau pedagang daging di wilayah Banten agar tetap solid selama aksi berlangsung. Selain itu, pengusaha penggilingan bakso diminta tidak menggunakan daging beku maupun daging impor sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut.

Salah seorang pengusaha daging di Kota Serang, Dede Ipul, menyatakan dirinya ikut serta dalam mogok berjualan. Menurutnya, harga beli sapi dari perusahaan terus mengalami kenaikan, sementara kemampuan masyarakat untuk membeli justru cenderung menurun.

Ia menilai kondisi ini cukup mengkhawatirkan, terlebih menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, di mana kebutuhan dan permintaan daging biasanya meningkat.

Di sisi lain, Asisten Daerah (Asda) II Kota Serang, Yudi Suryadi, menjelaskan bahwa kenaikan harga daging sapi dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan serta kebijakan impor sapi, khususnya dari Australia. Pemerintah Kota Serang, kata dia, tengah melakukan pembahasan dan persiapan guna mengantisipasi dampak kenaikan harga menjelang Ramadhan 2026.

Menurut Yudi, situasi tersebut seharusnya menjadi tantangan untuk mendorong penguatan produksi sapi lokal. Namun, keterbatasan regulasi di wilayah Kota Serang membuat pengembangan peternakan belum dapat dilakukan secara optimal.

Ia juga menyinggung adanya penyesuaian yang dilakukan pelaku usaha kuliner, seperti mengganti bahan daging sapi dengan daging ayam, sebagai upaya menekan dampak inflasi.

Terkait aksi mogok pedagang, Yudi menilai hal tersebut masih dalam batas kewajaran karena merupakan bentuk solidaritas pedagang di berbagai daerah. “Ini bukan komoditas pangan pokok. Kalau yang naik adalah bahan pokok utama, tentu dampaknya akan lebih serius,” ujarnya.

Diketahui, harga daging sapi di Pasar Induk Rau saat ini bertahan di kisaran Rp140 ribu per kilogram, naik signifikan dibandingkan harga sebelumnya yang berada di angka Rp125 ribu per kilogram.(ald)

Sumber: