BJB NOVEMBER 2025

Gubernur Janji Evaluasi Penyebab Banjir

Gubernur Janji Evaluasi Penyebab Banjir

TANGANI: Sejumlah personel BPBD Banten tangani banjir di sejumlah titik yang ada di Provinsi Banten belum lama ini.(BPBD For Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Gubernur Banten Andra Soni berjanji akan mengevaluasi penyebab banjir yang terjadi di Provinsi Banten. Termasuk maraknya tambang ilegal yang dituding oleh masyarakat sebagai salah satu biang kerok.

Andra mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan strategi komprehensif yang menyasar masalah banjir yang terjadi di beberapa daerah yang ada di Banten, mulai dari hulu hingga ke hilir. Pertama mulai dari memetakan dampak cuaca ekstrem terhadap titik-titik banjir.

”Yang pertama kita akan lakukan evaluasi ya, terkait dengan curah hujan yang cukup tinggi kemarin,” katanya saat ditemui di hotel Aston Kota Serang, Senin (5/1).

Langkah berikutnya yakni normalisasi sungai. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan fungsi aliran air yang selama ini terhambat oleh pendangkalan maupun bangunan liar. ”Kemudian kita akan lakukan normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi sungai, seperti yang sudah dilakukan dibeberapa titik seperti di Padarincang,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan menindak aktivitas yang merusak lingkungan, termasuk tambang ilegal dan pemukiman di bantaran sungai. Meski begitu penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, dan dilakukan oleh seluruh unsur pemerintahan, yang kini sudah memiliki kesamaan pandangan dalam upaya pencegahan. ”Penanganan banjir itu bicara hulu, tengah, dan hilir, itu harus komprehensif, dan ini saya lihat semangatnya sama dari kementerian, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten dan kota, sama-sama punya semangat yang sama untuk mencegah, dan salah satu mencegahnya adalah penertiban juga,” tuturnya.

Di samping itu, kata Andra pihaknya telah telah menyiapkan alat pendukung normalisasi sungai, termasuk excavator amfibi. Alat ini dinilai penting agar proses normalisasi bisa dilakukan secara bertahap saat kondisi cuaca memungkinkan. ”Salah satu yang kita tindaklanjuti adalah penyediaan alat, salah satunya excavator amfibi, supaya kita di masa tidak hujan kita bisa pelan-pelahan menormalisasi sungai kita, terus kolaborasi dengan balai juga,” ungkapnya.

Ia mencontohkan salah satu langkah yang dilakukan oleh Pemkot Serang yang melakukan penertiban dan normalisasi sungai di kawasan Sukadana. Dari laporan yang diterimanya, kebijakan tersebut mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Langkah tersebut juga akan dilakukan di wilayah lainnya, termasuk di sekitar Kasemen dan kawasan Pecinan. ”Saya ambil contoh apa yang dilakukan oleh Kota Serang dengan penertiban di Sukadana. Testimoni dari beberapa masyarakat, tokoh masyarakat, dan DPRD Kota Serang menyampaikan kembali ke saya bahwa dengan adanya normalisasi tersebut dampaknya terasa,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Luthfi Mujahidin mengatakan bahwa semua titik di wilayah Banten yang terkena banjir sudah surut. ”Beberapa titik yang sempat dilaporkan terkena banjir Alhamdulillah sekarang sudah surut,” katanya.

Meski bencana banjir sudah selesai, namun pihaknya masih turut membantu untuk membersihkan fasilitas umum (Fasum) di beberapa titik yang terdampak. Sebelumnya, Provinsi Banten dilanda rentetan bencana hidrometeorologi berupa banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor pada pembukaan tahun 2026. 

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Banten hingga Minggu (4/1) pukul 12.08 WIB, tercatat 3.286 rumah warga terendam serta sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan. Luthfi mengatakan Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian banjir tertinggi, sementara wilayah perkotaan seperti Serang dan Cilegon juga terdampak signifikan.

Ia memaparkan, Kabupaten Pandeglang mengalami 25 kejadian banjir. Beberapa titik seperti Kampung Bindang Rahayu dan Jembatan Desa Cal dilaporkan masih tergenang air dengan ketinggian hingga 70 cm. Selanjutnya, Kota Serang tercatat 14 kejadian banjir dan 4 kejadian cuaca ekstrem. Wilayah terdampak meliputi Linkungan Kroya Lama dan kawasan Masjid Agung Banten. ”Kota Cilegon dilaporkan 14 kejadian banjir dan 3 cuaca ekstrem,” katanya.

Sementara Kabupaten Serang mengalami dampak paling beragam dengan 11 kejadian banjir, 6 cuaca ekstrem, dan 4 titik longsor. Untuk Kabupaten Lebak dilaporkan 5 banjir, 1 cuaca ekstrem, dan 3 kejadian longsor.”Kabupaten Tangerang terdapat 7 kejadian banjir yang merendam kawasan pemukiman di Rajeg dan Sepatan,” tuturnya.(mam)

Sumber: