BJB NOVEMBER 2025

Ratusan Hektare Sawah Terkena Puso

Ratusan Hektare Sawah Terkena Puso

SAWAH TERENDAM: Ujang seorang petani menunjuk lahan padinya yang terendam banjir, Rabu (7/1).(A Fadilah/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Hujan deras dengan intensitas tinggi, yang terjadi sejak Desember hingga Januari telah merendam 1.091 hektare sawah  di Kabupaten Serang. Dari jumlah tersebut, 220 hektare mengalami puso atau gagal panen di 16 kecamatan, dan 442 hektare sudah mulai surut serta sisanya berhasil selamat sudah panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan, ratusan hektare lahan pertanian yang puso atau gagal panen ini, rata-rata usia tanamannya antara 10 sampai 15 hari masih dikategorikan belum siap panen. Meski begitu, para petani yang lahan pertaniannya mengalami puso tidak bisa memanen padinya, karena harus diganti dengan yang baru.

Suhardjo mengatakan, pihaknya sudah berkirim surat ke Pemprov Banten untuk bisa memberikan bantuan berupa benih padi, supaya kelompok petani yang terdampak bisa mendapatkan penggantinya. Karena, apabila lahan pertanian mengalami puso atau gagal panen bisa mendapatkan penggantian, untuk pengelolaannya sebesar Rp6 juta per kelompok petani.

”Jumlah petani di Kabupaten Serang ada 64 ribu, dengan jumlah kelompok petaninya ada 3.128, baru 20 persen dari kelompok petani yang sudah mendaftarkan asuransi. Sedangkan, sisanya belum namun kita terus dorong supaya kelompok yang belum bisa daftar, agar dapat bantuan lebih banyak,” katanya kepada wartawan, Rabu (7/1).

Dikatakan Suhardjo, apabila petani sudah terdaftar pada asuransi dan mengalami musibah seperti meninggal dunia, bisa mendapatkan Rp42 juta sebagai dana penggantiannya. ”Prosesnya klaimnya tidak lama, bisa cepat dan kita terus dorong mereka supaya daftar agar bisa mendapatkan kesejahteraan,” ucapnya.

Disisi lain, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menambahkan, produktivitas padi di Kabupaten Serang melonjak tajam surplus hingga 22,23 persen pada periode tahun 2025, dari target 556 ribu ton tercapai 591 ribu ton. ”Alhamdulillah kita surplus ya sekitar 100 ribu ton lebih, ini pencapaian luar biasa ya membawa Kabupaten Serang melampaui target produksi dari sektor pertanian yang telah ditetapkan,” katanya.

Zakiyah mengatakan, keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi pemerintah pusat dan Pemprov Banten, terutama dalam hal penyediaan pupuk murah dan optimalisasi irigasi.  Dirinya berkomitmen, untuk tetap menjaga kawasan pertanian meskipun arus investasi terus masuk ke Provinsi Banten, khususnya Kabupaten Serang.”Kita akan terus konsisten mempertahankan kawasan pertanian dan meningkatkan produksi padi,” ujarnya.

Terpisah, puso juga melanda wilayah Kabupaten Lebak.  Informasi yang dihimpun, dari 164 hektar lahan padi yang terendam banjir, sekitar 50 hektare lahan padi dinyatakan puso alias gagal panen. Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi petani dan perlu perhatian serius dari pemerintah. 

Irwan Riyadi, Kepala Bidang Binus dan Perlintan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak membenarkan lahan padi di beberapa desa di Kecamatan Cibadak terendam banjir. Menurut dia, data yang masuk ada sekitar 164 hektar pesawahan padi terendam, diantaranya di Desa Cisangu, Cimenteng Jaya, Panancangan, dan Bojongcae. Untuk Desa Cisangu menjadi wilayah terdampak terluas, dengan 101 hektar sawah terdampak. “Sebagian genangan sudah surut, namun sekitar 50 hektar mengalami kerusakan parah sehingga gagal panen,” kata Irwan Riyadi, kepada wartawan di Rangkasbitung, Rabu (7/1) 

Sebagai tindak lanjut, kata Irwan, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk pengajuan bantuan benih padi pengganti, bagi lahan yang dinyatakan puso.  Pihaknya juga mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) melalui PT Jasindo untuk memperoleh kompensasi jika terjadi gagal panen. Kata Irwan, banjir tidak hanya dipicu hujan ekstrem, tetapi juga bisa karena saluran drainase tersumbat dan pendangkalan sungai. Ia mengimbau petani aktif melaporkan kondisi di lapangan agar penanganan bisa lebih cepat. “Dengan sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, dampak bencana pertanian dapat ditekan dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” papar Irwan.

Ujang Komarudin, warga Desa Cisangu yang lahannya terdampak mengatakan, sawahnya yang terdampak seluas 10 petak dari 20 petak miliknya. 10 petak yang sebulan lagi panen rusak total dan dipastikan gagal panen. ”Kalau sudah kerendam itu jadi bubur lagi, jadi tanah lagi. Yang sudah tumbuh batangnya masih utuh, tapi buahnya tidak menghasilkan kembang belalang dan putih-putih,” tuturnya. 

Ujang mengaku, Biaya produksi yang hilang diperkirakan mencapai Rp20 juta. Banjir ini juga merendam di area lahan milik 30 petani di wilayah yang sama.”Kami berharap, pemerintah dapat membantu dalam hal bibit dan pupuk, guna menanam kembali jika sudah kembali normal,” ungkapnya. 

Doli, Kepala Desa Cisangu menambahkan, banjir berulang kali disebabkan aliran buangan dari beberapa desa sekitar, termasuk wilayah Warunggunung. “Banjir ini sebenarnya sudah terjadi berulang kali. Aliran buangan dari beberapa desa ikut mengalir ke wilayah kami karena posisinya berada di sisi desa,” jelas Doli. 

Doli menekankan, normalisasi kali menjadi langkah paling penting dan mendesak untuk mengatasi banjir berulang. “Solusinya sederhana, yakni normalisasi kali. Kami berharap pihak terkait segera menindaklanjuti karena ini akan cukup efektif mengurangi dampak banjir,” ucapnya.(agm-fad) 

Sumber: