3.286 Rumah Terendam Banjir di Awal Tahun 2026
KONDISI BANJIR: Warga melintasi genangan banjir yang merendam permukiman di Desa Pangabean, Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. (Aldi Alpian Indra/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Provinsi Banten dilanda rentetan bencana hidrometeorologi berupa banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor pada pembukaan tahun 2026.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Banten hingga Minggu (4/1) pukul 12.08 WIB, tercatat 3.286 rumah warga terendam serta sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Luthfi Mujahidin mengatakan Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian banjir tertinggi, sementara wilayah perkotaan seperti Serang dan Cilegon juga terdampak signifikan.
Ia memaparkan, Kabupaten Pandeglang mengalami 25 kejadian banjir. Beberapa titik seperti Kampung Bindang Rahayu dan Jembatan Desa Cal dilaporkan masih tergenang air dengan ketinggian hingga 70 cm.
Selanjutnya, Kota Serang tercatat 14 kejadian banjir dan 4 kejadian cuaca ekstrem. Wilayah terdampak meliputi Linkungan Kroya Lama dan kawasan Masjid Agung Banten.”Kota Cilegon dilaporkan 14 kejadian banjir dan 3 cuaca ekstrem,” katanya, Minggu (4/1).
Sementara Kabupaten Serang mengalami dampak paling beragam dengan 11 kejadian banjir, 6 cuaca ekstrem, dan 4 titik longsor. Untuk Kabupaten Lebak dilaporkan 5 banjir, 1 cuaca ekstrem, dan 3 kejadian longsor.”Kabupaten Tangerang terdapat 7 kejadian banjir yang merendam kawasan pemukiman di Rajeg dan Sepatan,” tuturnya.
Luthfi mengaku, secara akumulatif, cuaca buruk dalam tiga hari terakhir telah menyebabkan kerugian fisik dan sosial bagi masyarakat Banten. Mulai dari permukiman, sebanyak 3.286 rumah warga terendam banjir.
Selanjutnya, infrastruktur 1 jembatan dan 1 gedung sekolah dilaporkan mengalami kerusakan. Pengungsian tercatat sebanyak 62 KK atau 56 jiwa terpaksa mengungsi akibat tempat tinggal yang tidak memungkinkan untuk ditempati.
Hingga Minggu siang, kondisi di beberapa titik seperti Kota Serang dan Kota Cilegon dilaporkan mulai berangsur surut. Namun, di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak, petugas BPBD masih memantau beberapa lokasi yang masih tergenang air.”Untuk wilayah Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, hingga saat ini dilaporkan masih dalam kondisi nihil kejadian bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan yang dapat memicu kenaikan debit air kembali,” paparnya.
Sementara itu, berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang per Minggu (4/1) pukul 14.10 WIB, banjir tercatat terjadi dalam 18 kejadian yang tersebar di Kecamatan Kasemen dan Kecamatan Serang. Selain banjir, BPBD juga mencatat dampak cuaca ekstrem berupa pohon tumbang dan rumah roboh di beberapa kecamatan lainnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, menjelaskan bahwa secara keseluruhan bencana hidrometeorologi tersebut berdampak pada 1.206 kepala keluarga atau 4.211 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 1.098 rumah terendam, 10 rumah mengalami kerusakan, serta 62 kepala keluarga atau 63 jiwa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Data sementara menunjukkan banjir paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Kasemen, khususnya di Kelurahan Banten, Margaluyu, Sawah Luhur, Kasunyatan, dan Kasemen. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai sekitar satu meter di beberapa titik,” kata Diat Hermawan.
Selain permukiman warga, banjir juga menggenangi satu fasilitas umum, yakni SDN Ambon di Kecamatan Kasemen. Sementara itu, sejumlah kawasan bersejarah di wilayah Banten Lama turut terdampak genangan air, meskipun sebagian sudah berangsur surut.
Sumber:

