BJB NOVEMBER 2025

Wally, Rela Tinggalkan Istri Hamil Demi Bantu Korban Bencana

Wally, Rela Tinggalkan Istri Hamil Demi Bantu Korban Bencana

Wally bersama tim Baznas pusat saat mendistribusikan logistik untuk warga terdampak bencana di Kecamatan Huta Nabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.-Abul Aziz Muslim/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Sepekan pasca bencana tanah longsor dan banjir bandang terjadi Sumatera, pada akhir Novem­ber 2025, Wally Mujahidin (25) mendapat tugas misi kemanusiaan. Dia seorang diri dikirim Baznas Kota Ta­ngerang ke lokasi bencana Sumatera, sebagai tim advan­ce guna mengetahui lokasi terdampak bencana.

Sebelum diberangkatkan ke lokasi bencana, Wally me­mohon restu kepada ke­dua orang tuanya dan istrinya yang tengah mengandung anak pertamanya dengan usia kehamilan 7 bulan. 

”Saya bimbang, satu sisi saya merasa terpanggil untuk berangkat menjalani misi kemanusiaan, tapi berat juga rasanya meninggalkan istri yang usia kehamilannya s­u­dah menanjak diusia 7 bulan,” ungkap Wally saat ditemui di Kantor Baznas Kota Ta­ngerang, belum lama ini.

”Setelah mendapat restu dari orang tua dan istri, ter­lebih tekad saya juga kuat saya langsung bilang ke pim­pinan Baznas Kota Tangerang, saya sudah mendapat izin dari keluarga dan siap dibe­rangkatkan. Pimpinan pun melalui bendahara langsung memesankan tiket pesawat untuk saya untuk diberang­katkan ke Sumatera Utara,” sambungnya.

Wally diberangkatkan Baz­nas Kota wilayah terdampak bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Sesampainya disana dia bergabung dengan tim advance Baznas pusat untuk memetakan kebutuhan warga yang terdampak ben­cana tanah longsor dan banjir bandang.

”Saya bersama tim advance Baznas pusat bertugas untuk mengetahui dan mendalami kira-kira apa saja kebutuhan warga terdampak bencana. Kemudian menentukan titik lokasi wilayah mana yang akan kita berikan bantuan,” 

Di lokasi bencana, Wally tak dapat menghubungi ke­luarganya lantaran tidak ada­nya signal selular. Namun, dia berdoa agar dalam menja­lani misi kemanusiaan selalu dalam lindungan Allah SWT. Terlebih keluarganya di ru­mah pun selalu dalam lin­dungan-Nya.

Selama dua pekan lebih di wilayah terdampak bencana, Wally mendapatkan penga­laman berharga. Lokasi ben­cana yang penuh dengan lum­pur dan akses jalan ba­nyak yang terputus akibat tanah longsor dan banjir ban­dang. Kondisi tersebut membuat tim advance Baz­nas harus berjibaku menem­bus jalur guna mencapai ke titik lokasi yang sudah diarah­kan dari tim Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

”Ada jalur yang masih bisa dilalui mobil, itu pun harus berjibaku menembus lumpur bekas banjir yang cukup da­lam. Karena pada sepekan pasca Bencana banyak warga terisolir lantaran kesulitan akses. Maka itu bantuan prio­ritas logistik permakanan dan air bersih,” kata Wally.

Pada sepekan pasca Ben­cana, warga terdampak ben­cana di Tapanuli Tengah ke­sulitan permakanan, se­hingga sebagian kecil mereka sempat melakukan penja­rahan toko ritel.

”Saat itu memang masya­rakat terlihat panik. Kondisi belum kondusif. Kondisi itu tak lama mereda setelah pe­­tugas gabungan berupaya menyuplai kebutuhan logis­tik untuk mereka,” ungkap Wally.

Sambil memetakan lokasi bencana di Kabupaten Tapa­nuli Tengah, Wally bersama tim advance lainnya juga men­distribusikan logistik permakanan ke daerah ter­pencil, salah satunya di da­erah Gupit, Desa Huta Na­bolon, Kecamatan Tukka.

”Daerah ini memang teriso­lir dengan ketebalan lumpur yang cukup tinggi, jadi harus ditembus menggunakan ken­daraan 4X4 atau 4WD yang memiliki roda pengge­raknya cukup kuat,” kata Wally.

”Beberapa kilo meter me­nuju titik lokasi tidak bisa ditempuh menggunakan ken­daraan karena daerah perbukitan, kita bawa logistik dibantu TNI dengan medan yang cukup terjal,” katanya.

Sumber: