Buka Peluang Peningkatan Pendapatan, Dorong KDMP Masuk Program MBG
TINJAU: Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang, Anna Ratna Maemunah saat meninjau gerai KDMP di salah satu desa di Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu.(Dok. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kab. Tangerang)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang mulai mendorong Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk memenuhi kebutuhan program Makan Gizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tangerang, Anna Ratna Maemunah menuturkan meski masih terbatas, langkah awal ini dinilai menjadi pondasi penting agar masyarakat desa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam rantai ekonomi.
Saat ini, keterlibatan koperasi desa dalam program MBG baru menyentuh komoditas yang tidak banyak. Distribusi tersebut pun baru berjalan di beberapa wilayah seperti di KKMP Sukamulya Kecamatan Cikupa.
Kondisi ini, kata dia, terjadi karena MBG masih memiliki mitra lama yang sejak awal terlibat dalam kegiatan program tersebut.
“Di MBG kan ada telur, ada susu, ada beras, ada ayam, ada sayur. Nah yang baru masuk di Koperasi Desa Merah Putih itu baru 1 atau 2 komoditi saja. Karena MBG juga punya mitra lama yang sudah membangun dari awal, jadi tidak mungkin langsung diputus begitu saja,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, lanjut Ratna, kehadiran Koperasi Desa Merah Putih bukan untuk menggantikan mitra lama, melainkan untuk memperluas kolaborasi dan membuka peluang bagi masyarakat desa. Sehingga, ekonomi desa bisa bergerak lebih merata dan memberi kesempatan bagi warga untuk terlibat langsung dalam rantai distribusi.
“Koperasi Desa Merah Putih ini hadir untuk berkolaborasi, bukan untuk mematikan. Kita ingin ada pemerataan ekonomi di desa. Jadi masyarakat desa tidak cuma jadi penonton, tapi juga jadi pelaku,” kata Ratna.
Senada, Tri Samiharto Kepala Bidang Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro menjelaskan, gerai KDKMP yang sudah beroperasi saat ini tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari persoalan stok, komunikasi, hingga kesiapan mental pelaku koperasi menjadi hambatan yang harus dihadapi.
Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak bisa diraih secara cepat tanpa proses yang matang. Oleh karena itu, kata Tri, koperasi diminta untuk fokus membangun fondasi terlebih dahulu sebelum memperluas komoditas lainnya.
“Sekarang fokus dulu pada 1 atau 2 komoditi, rapikan manajemen, rapikan stok. Kalau ini sudah jalan bagus, baru kita bicara komoditi yang lebih banyak. Jangan semua mau diambil tapi akhirnya malah berantakan,” tuturnya.
Langkah kecil ini, lanjut Tri, diharapkan menjadi pintu masuk bagi koperasi desa untuk mendapat kepercayaan lebih besar ke depan. Jika pengelolaan berjalan baik, peluang untuk mengelola komoditas lain seperti beras, ayam, hingga sayuran terbuka lebar.
”Dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus membuka jalan bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pembangunan ekonomi lokal,” ujarnya.(dan)
Sumber:

