Produksi Ketimun Suri di Lebak Turun
Penjual ketimun suri saat melayani pembeli, Minggu (22/2). (AHMAD FADILAH/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, LEBAK — Bulan suci Ramadan menjadi momentum bagi para petani ketimun suri di Kabupaten Lebak. Pasalnya, buah musiman yang identik untuk menu berbuka puasa itu diburu warga dan pedagang untuk dijajakan.
Ahmad Syarif, seorang petani di Kampung Cikabayan, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, mulai memanen ketimun suri di kebunnya. Setiap menjelang Ramadan, Syarif mengaku rutin menanam buah yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “bonteng puan".
Syarif mengatakan, selama Ramadan, dirinya dapat memanen setiap hari dengan hasil mencapai 1,5 hingga 2 kuintal per hari, tergantung kondisi tanaman.
"Iya, saya rutin sebelum Ramadan menanam timun suri, sehingga, pas Ramadan dapat dipanen dan dijual ke pasar dan ada juga yang datang ke kebun," katanya saat ditemui di kebunnya, Minggu (22/2).
Ia menuturkan, hampir separuh warga di kampungnya juga menanam ketimun suri untuk memanfaatkan tingginya permintaan saat Ramadan. Persiapan tanam biasanya dilakukan dua hingga tiga bulan sebelum bulan puasa tiba.
“Di kampung saya ini hampir separuh warga menanam timun suri. Biasanya dua atau tiga bulan sebelum puasa sudah siap tanam,” ujarnya.
Dari sisi pemasaran, Syarif mengaku tidak kesulitan menjual hasil panen. Para pengepul datang langsung ke kebun untuk membeli ketimun suri. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan sepeda motor maupun mobil.
“Ada yang pakai motor, ada juga yang pakai mobil. Mereka keliling mengambil hasil panen dari petani seperti saya. Jadi kami tidak perlu repot membawa hasil panen ke pasar,” paparnya.
Penjualan dilakukan dengan dua sistem, yakni per buah maupun per kilogram, tergantung permintaan pembeli. Harga per buah berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000, menyesuaikan ukuran.
Namun, meski permintaan meningkat selama Ramadan, produksi tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Curah hujan tinggi saat masa tanam menyebabkan banyak tanaman membusuk dan gagal berkembang.
“Waktu tanam itu hujannya hampir tiap hari. Pohon masih kecil sudah kena hujan terus, jadi banyak yang busuk. Buah pertama kurang menghasilkan,” tuturnya.
Akibat kondisi tersebut, pendapatannya diperkirakan turun. Jika pada musim sebelumnya ia mampu meraup Rp5 juta hingga Rp8 juta selama Ramadan, tahun ini ia memperkirakan penghasilan hanya sekitar Rp 3 juta.
“Kalau tahun-tahun bagus bisa sampai tujuh atau delapan juta. Sekarang mungkin tiga jutaan saja, karena banyak yang gagal akibat hujan,” jelasnya.
Meski demikian, Syarif tetap bersyukur ketimun suri masih menjadi komoditas andalan saat Ramadan. Ia berharap cuaca ke depan lebih bersahabat agar hasil panen berikutnya meningkat dan kembali memberikan keuntungan bagi para petani di Lebak.
Sumber:
