Limbah Uang Rupiah Jadi Tenaga Listrik

Selasa 25-08-2026,21:02 WIB
Reporter : Syirojul Umam
Editor : Sutanto

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Bank Indonesia Pro­vinsi Banten bersama PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pem­bangkit (UBP) Banten 1 Suralaya menjalin kerjasama dengan me­manfaatkan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) sebagai bahan bakar alternatif dalam proses co-firing di pembangkit listrik.

LRUK kini menjadi bagian dari sumber energi alternatif, sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Bank Indonesia dalam mendorong environmental sustainability dan green economy.

Kepala Perwakilan Bank Indo­nesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia mengatakan bahwa kola­borasi dengan PLN Indonesia Power merupakan langkah nyata dalam mendukung kelestarian lingkungan.

"LRUK yang kita manfaatkan bukan lagi uang, melainkan limbah hasil pemusnahan uang yang telah kehila­ngan nilai dan fungsinya. Namun, kehilangan nilai sebagai alat pemba­yaran bukan berarti kehilangan manfaat. Melalui kolaborasi ini, LRUK memperoleh kehidupan baru sebagai sumber energi alternatif yang mendukung kelestarian ling­kungan," katanya, Senin (24/8).

Ia menjelaskan, Bank Indonesia memiliki amanat untuk mengelola Rupiah secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pen­cabutan dan penarikan, hingga pemusnahan. Dalam proses ter­sebut, uang Rupiah yang sudah tidak layak edar dimusnahkan dan menghasilkan LRUK.

LRUK yang dimanfaatkan dalam kerja sama ini bukan lagi uang Rupiah. Material tersebut meru­pakan LRUK yang sama hasil pemusnahan uang yang telah diracik menjadi partikel-partikel kecil dan bercampur satu sama lain, sehingga tidak dapat lagi dikenali berdasarkan nominal, pecahan, maupun bentuk aslinya. 

"Dengan demikian, LRUK telah kehilangan seluruh nilai dan fungsinya sebagai alat pembayaran. Na­mun, sesuatu yang telah kehi­langan nilai sebagai alat pem­bayaran tidak harus kehilangan manfaatnya," ungkapnya.

Kandungan serat dan material dalam LRUK memungkinkan lim­bah tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dalam kerja sama ini, LRUK diqunakan sebagai campuran biomassa dalam proses co-firing bersama Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang berasal dari hasil pengolahan sampah. 

"Langkah tersebut menghadirkan pendekatan baru dalam penge­lolaan limbah sekaligus men­du­kung pemanfaatan sumber energi yang lebih ramah lingkungan," tuturnya.

Pemanfaatan LRUK menjadi semakin strategis mengingat volu­menya tidak kecil. Dalam satu kali pengiriman, LRUK dapat men­capai sekitar 4-8 ton, yang berasal dari 100-200 karung dengan berat sekitar 40 kilogram per karung. 

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan solusi pengelolaan LRUK yang tidak hanya bertanggung jawab, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah.

"Pemanfaatan LRUK sebagai bahan bakar alternatif menun­jukkan bahwa pengelolaan Rupiah dapat berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan. Dari penge­lolaan Rupiah, lahir sebuah inisiatif yang tidak hanya menjaga integ­ritas proses pemusnahan uang, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengelolaan lingkungan dan transisi energi," jelasnya.

Kolaborasi Bank Indonesia Pro­vinsi Banten dan PT PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya menjadi contoh bahwa tantangan pengelolaan limbah dapat diubah menjadi peluang untuk men­ciptakan manfaat baru. Peman­faatan LRUK dalam co-firing di­harapkan dapat mendukung pengurangan emisi karbon serta menjadi bagian dari upaya mem­percepat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Sofwan memberikan apresiasi kepada PT PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya atas sinergi yang telah terbangun. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi praktik baik pengelolaan limbah berbasis nilai tambah, sekaligus memperkuat sinergi antarlembaga dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang hijau dan berkelanjutan.

"Ketika Rupiah telah selesai menjalankan tugasnya sebagai alat pembayaran, manfaatnya masih dapat berlanjut-dari lem­baran yang diracik menjadi energi yang menghidupkan, dari limbah menjadi nilai tambah, dan dari pengelolaan Rupiah menuju In­donesia yang lebih hijau dan ber­kelanjutan," paparnya. (mam)

Kategori :

Terkait