TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Gubernur Banten, Andra Soni terus mengingatkan kepada kepada sekolah untuk dapat mengelola anggaran Program Sekolah Gratis (PSG) dengan baik, transparan, dan akuntabel sesuai regulasi yang berlaku.
Andra mengatakan, program prioritas Pemprov Banten ini harus berjalan dengan baik, sesuai dengan arah dan tujuan guna memperluas akses pendidikan yang merata, meringankan beban ekonomi keluarga, dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
”Para guru harus dapat mengelola anggaran program ini secara transparan dan akuntabel sesuai regulasi yang berlaku,” katanya, Selasa (21/7).
Ia menjelaskan, seiring bertambahnya jumlah siswa, fasilitas penunjang belajar juga harus terus ditingkatkan guna mencetak generasi muda yang tangguh, kreatif, dan adaptif dalam memecahkan masalah.
Dalam beberapa kesempatan Gubernur Banten, Andra Soni juga terus melakukan peninjauan terhadap sekolah-sekolah yang mengikuti PSG, salah satunya SMK PGRI Pandeglang, belum lama ini.
Dalam kesempatan itu, Andra membagikan kisah masa lalunya yang penuh keterbatasan. Ia berharap tidak ada lagi anak di Banten yang putus sekolah atau terhambat masa depannya karena kendala biaya.
”Saya sejak SD, SMP, hingga SMA pernah merasakan terlambat membayar uang sekolah dan dipanggil ke ruang Tata Usaha (TU). Secara mental tentu sedih. Saya juga punya teman yang ijazahnya tertahan hingga sudah memiliki tiga anak dan bekerja. Kekhawatiran tidak boleh ikut ulangan atau ijazah ditahan inilah yang menjadi dorongan kuat bagi saya untuk meluncurkan Program Sekolah Gratis di Provinsi Banten,” ujarnya.
Andra berpesan agar para siswa memanfaatkan kesempatan ini dengan belajar sungguh-sungguh, menghormati guru, dan menjaga nama baik sekolah. Ia juga menegaskan agar para siswa menghindari aksi tawuran dan bijak dalam menggunakan media sosial.
”Pemerintah membiayai anak-anak untuk bersekolah, bukan untuk tawuran. Aktualisasikan diri kalian melalui kegiatan positif seperti olahraga atau Pramuka. Berhati-hatilah dalam bermedia sosial, jangan mudah terpengaruh tren atau FOMO (fear of missing out),” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMK PGRI Pandeglang Lili Kholili, mengatakan bahwa pada tahun ajaran 2024/2025 sebelum program berjalan, sekolahnya hanya mampu menjaring 100 siswa baru. Namun, setelah Program Sekolah Gratis diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026, jumlah pendaftar meningkat pesat hingga dibuka lima kelas atau rombongan belajar (rombel) dengan total 180 siswa.
”Bahkan, tidak semua pendaftar dapat kami terima karena keterbatasan ruang kelas. Puncaknya pada tahun ajaran 2026/2027 ini, berkat adanya renovasi ruang kelas, kami siap menampung hingga delapan rombongan belajar,” katanya.
Lili menjelaskan, melalui program ini, orang tua siswa kini hanya perlu memikirkan biaya seragam sekolah. Sementara itu, seluruh biaya operasional dan uang sekolah sudah sepenuhnya ditanggung oleh Pemprov Banten. Bantuan dana institusi swasta pun meningkat dari yang sebelumnya hanya mengandalkan SPP sebesar Rp100.000 per siswa, kini menjadi Rp200.000 per siswa melalui skema program tersebut.
”Pengelolaannya mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) Banten Nomor 15 Tahun 2025 yang meliputi delapan standar nasional pendidikan. Untuk sekolah swasta, dana ini dialokasikan untuk komponen gaji guru, kegiatan siswa, serta pemeliharaan bangunan gedung,” paparnya. (mam)