TANGERANGEKSPRES.ID, RANGKASBITUNG — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mencatat seluas 8 hektare sawah padi yang siap panen di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak dipastikan gagal panen (puso) akibat banjir melanda wilayah tersebut.
Rahmat Yuniar, Kepala Distan Lebak mengatakan, tingginya curah hujan beberapa hari lalu mengakibatkan puluhan hektare sawah milik warga sebagian mengalami gagal panen akibat terendam banjir.
"Yang mengalami gagal panen sekitar 8 hektare sawah padi yang siap panen, sisa puluhan hektare padi di Kecamatan Cipanas yang masa tanam baru satu bulan rusak," katanya kepada wartawan, Selasa (19/5).
Menurut Rahmat, air dari perbukitan yang bermuatan lumpur menghantam persawahan yang sebentar lagi akan panen. Tak ada korban jiwa pada kejadian ini. Namun padi telah tertimbun lumpur dan tidak bisa lagi di panen.
"Kita akan berikan bantuan benih kepada petani yang gagal panen dan padinya rusak," ujarnya.
Lanjut dia, peristiwa banjir dan longsor ini dipicu tingginya curah hujan. Kondisi ini mengundang air bah dari daerah perbukitan, bahkan mengakibatkan padi tertimbun pasir dan lumpur, kerugian masyarakat di perkirakan mencapai ratus juta rupiah.
Selain itu, kata Rahmat, banjir ini juga merusak jalan tani dan beberapa jaringan irigasi sebagai pusat pendistribusian air menuju lahan pertanian masyarakat.
"Kondisi ini tentu membutuhkan perbaikan agar para petani tidak terkendala dalam masalah pasokan air untuk kebutuhan tanaman padi. Kita telah laporkan kejadian ini ke pemerintah, agar segera ditangani," ungkapnya.
Salah seorang petani di Kecamatan Muncang, Jamhur mengatakan, masyarakat saat ini mengalami kerugian yang cukup besar.
Peristiwa ini memberikan dampak buruk terhadap perekonomian keluarga. Selama ini hasil produksi sawah merupakan andalan ekonomi masyarakat, bahkan sebagai tulang punggung kehidupan.
"Deengan tertimbunnya padi siap panen ini masyarakat kehilangan mata rantai kehidupan, terutama bagi anggota kelompok tani di wilayah kami," tuturnya. (fad)