TANGERANGEKSPRES.ID, PAMULANG — Buka puasa menjadi waktu yang paling ditunggu bagi umat muslim untuk mengembalikan energi setelah seharian menahan lapar dan haus selama bulan Ramadan. Namun, masyarakat diimbau tidak asal mengonsumsi makanan maupun minuman saat waktu berbuka tiba.
Setelah menahan lapar dan haus lebih dari 12 jam, tubuh membutuhkan asupan makanan sehat dan bernutrisi. Hal itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus meningkatkan daya tahan agar tidak mudah sakit selama menjalankan ibadah puasa.
Kepala UPTD Puskesmas Pamulang Fitria Oriza mengatakan, saat berpuasa tubuh berada dalam kondisi kekurangan gula karena sejak sahur tidak ada asupan makanan maupun minuman. Jika langsung mengonsumsi makanan berat atau kompleks saat berbuka, tubuh bisa mengalami kaget.
“Kalau kita berpuasa itu pastinya tubuh kita dalam kondisi kekurangan gula. Kita dari terakhir sahur itu setengah lima sudah tidak makan, nanti buka puasanya jam enam sore berarti 12 jam. Kalau langsung mengonsumsi makanan yang kompleks dan berat, tubuh nanti akan kaget,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (19/2).
Fitria menambahkan, saat berbuka sebaiknya diawali dengan makanan manis, seperti kurma. Ia menyebutkan, dalam ajaran Islam disunnahkan berbuka dengan tiga buah kurma dan air putih. “Jadi jangan juga baru buka puasa langsung minum es cendol, makan gorengan, terus makanan berlemak. Itu akan membuat kaget perut kita,” tambahnya.
Menurutnya, minuman manis dan gorengan memang menggoda saat berbuka. Namun, makanan berlemak akan membuat kerja lambung lebih berat setelah lama tidak menerima asupan makanan.
“Pada saat buka puasa memang enak minum es yang manis terus makan gorengan. Itu enak di mulut, tapi di perut nanti kaget karena mencerna makanan berlemak itu berat,” jelasnya.
Ia menyarankan, setelah berbuka dengan yang manis, masyarakat bisa makan secara bertahap. Misalnya mengonsumsi buah-buahan atau makanan ringan terlebih dahulu, kemudian makan berat setelah salat Maghrib.
“Bisa dengan kurma, bisa teh manis satu gelas. Kalau ingin minum minuman manis juga tidak apa-apa segelas saja. Misalnya es kelapa. Setelah itu bertahap makannya, bisa buah-buahan dulu, makanan ringan dulu, baru setelah salat Maghrib makan nasi,” tururnya.
Selain itu, Fitria mengingatkan agar tidak makan berlebihan saat berbuka. Ia menyebut, kebiasaan “balas dendam” makan dalam porsi besar bisa mengganggu pencernaan. “Jangan mentang-mentang seharian enggak makan langsung balas dendam, nasi, sop piring mentul, lauk-pauk lengkap. Kalau bisa porsi kecil tapi beberapa kali makan,” tuturnya.
Wanita berkerudung ini juga menyarankan konsumsi makanan lengkap dilakukan setelah tarawih. Menurutnya, tubuh akan lebih siap karena sudah bergerak setelah salat. “Biasanya habis salat Maghrib konsumsi takjil seperti bubur atau kacang hijau. Setelah itu tarawih. Setelah tarawih baru konsumsi makanan lengkap seperti nasi dengan lauk-pauk,” ungkapnya.
Fitria menegaskan, energi yang didapat setelah makan dapat dimanfaatkan untuk beribadah, seperti tadarus maupun aktivitas lain. Namun ia mengingatkan agar tidak begadang terlalu malam karena harus bangun lagi untuk sahur.
“Tapi jangan juga istirahat terlalu malam. Mungkin jam 11 atau jam 12 setelah selesai ngaji, istirahat. Karena nanti jam 3 sudah bangun lagi buat sahur,” ungkapnya.
Selain soal makanan, ia juga menekankan bahwa kebiasaan merokok saat berbuka sangat tidak baik bagi kesehatan. “Kalau orang pas buka langsung merokok itu sangat tidak bagus untuk kesehatan. Itu artinya meracuni dirinya sendiri. Tidak puasa saja merokok tidak baik, apalagi membatalkan puasa pakai rokok,” tegasnya.
Untuk sahur, Fitria menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan agar tubuh tidak kekurangan air saat berpuasa. “Pastikan saat sahur konsumsi air putih yang cukup. Bisa bangun tidur minum dua gelas, setelah sahur minum dua gelas, menjelang imsak minum lagi dua gelas. Jadi sekitar 6 sampai 8 gelas,” tuturnya.