Ia juga menyarankan masyarakat memilih karbohidrat kompleks saat sahur, seperti singkong atau ubi yang dikukus, bukan digoreng. “Karbohidrat kompleks itu lebih bagus, misalnya singkong atau ubi. Dikukus jangan digoreng, kalau digoreng kolesterol naik. Kalau bisa makan beras merah juga bagus, kenyang lebih lama dan gula darah tidak meningkat cepat,” katanya.
Bagi masyarakat yang sehat, Fitria menyarankan pola makan gizi seimbang, dengan memperbanyak protein serta sayur-sayuran. Menurutnya, terlalu banyak karbohidrat tanpa protein dapat menyebabkan gula darah naik mendadak lalu turun drastis sehingga tubuh cepat lemas.
“Karbohidratnya normalisasi 30 sampai 40 persen, kemudian ditambah protein. Proteinnya bisa ayam, ikan, daging, tahu tempe. Kalau tidak mau repot, telur itu jimat utamanya,” terangnya.
Ia menambahkan, makanan seperti sop menjadi pilihan baik untuk sahur maupun berbuka karena mengandung sayuran dan membuat lambung lebih nyaman.
“Sop itu makanan yang bagus, karena isinya sudah ada sayuran, ditambah daging ayam atau sapi. Di perut juga nyaman,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan masyarakat menghindari makanan yang memicu gas seperti kol dan nangka saat sahur karena dapat menyebabkan perut kembung dan nyeri ulu hati selama puasa. “Makanan yang mengandung gas seperti kol dan nangka sebaiknya dihindari saat sahur. Karena nanti menghasilkan gas saat berpuasa, bisa kembung, nyeri ulu hati, begah,” terangnya.
Bagi penderita maag, Fitria menyarankan mengonsumsi obat lambung sebelum makan berat saat berbuka, sesuai arahan dokter. “Untuk yang punya maag, setelah konsumsi kurma atau minuman manis, bisa minum obat lambung dulu sebelum makan supaya lambung terlindungi. Bisa antasid atau omeprazole sesuai arahan dokter,” tuturnya.
Sementara bagi penderita diabetes maupun hipertensi, ia menegaskan tetap bisa menjalankan ibadah puasa asalkan kondisi kesehatan terkontrol dan pengaturan obat dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.
“Pasien diabetes juga boleh puasa, yang penting obat-obatannya konsultasi dulu dengan dokter. Obat apa yang diminum saat buka, obat apa saat sahur. Jadi walaupun diabetes atau hipertensi tidak mengurangi kemampuan ikut puasa, yang penting gula darah dan tekanan darah terkontrol,” tutupnya. (bud)