Lurah Ciputat Minta RW Bentuk Bank Sampah

Senin 26-01-2026,20:55 WIB
Reporter : Tri Budi Sulaksono
Editor : Endang Sahroni

”Biopori yang akan dibuat memiliki diameter lebih besar, sekitar 6 hingga 8 centimeter, dan nantinya akan ditempatkan di lingkungan warga. Tentunya tidak di semua rumah karena keterbatasan jumlah. Namun, diharapkan dengan program ini masyarakat dapat mulai memilah sampah dari rumah, antara sampah organik dan nonorganik,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir, Pemkot Tangsel telah menetapkan status tang­gap darurat sampah. Hal ini terkait dengan dilakukannya penutupan sementara TPA Ci­peucang untuk proses pe­nataan. 

”Penataan ini meliputi sistem terasering, pemasangan bron­jong, penataan turap, pem­bangunan jalan beton, serta pembangunan IPAL, agar TPA Cipeucang ke depan menjadi lebih aman, bersih, dan ramah bagi lingkungan sekitar,” ujar­nya.

Pilar menambahkan, selama bertahun-tahun, masyarakat di sekitar TPA Cipeucang me­rasakan langsung dampak bau sampah setiap hari, baik pagi, siang, sore, hingga malam. 

”Bahkan tetangga saya sering menyampaikan keluhan kepada saya, karena kebetulan saya menjabat sebagai Wakil Wali Kota. Ini menjadi pengingat bagi kami bahwa penataan sampah memang harus dila­kukan secara serius dan ber­kelanjutan,” tambahnya.

Menurutnya, saat ini investasi untuk penataan sudah tersedia, namun proses pembangu­nan­nya tentu membutuhkan waktu, bisa dua hingga tiga tahun. Selain itu, Pemkot Tangsel juga sedang mempersiapkan pem­bangunan Material Recovery Facility (MRF) sebagai tempat pemilahan sampah berbasis teknologi. 

Termasuk proses penyiapan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). ”Insya allah pembangunan MRF ini akan mulai dilakukan tahun ini, meskipun pelaksanaannya tetap membutuhkan waktu sekitar 6 bulan,” terangnya.

Sedangkan produksi sampah setiap hari terus berjalan. Oleh karenanya, jangka pendek dan menengah Pemkot Tangsel menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengolahan sampah.

”Saat ini fokus kita bagaimana menyelesaikan persoalan sam­pah. Ini membutuhkan du­kungan dari bapak, ibu semua. Jadi mohon terkait sampah ini kita serius dikurangi dari tingkat hulu,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mengatasi sampah bisa dimulai dari lang­kah-langkah di rumah dengan pilah sampah. Untuk sampah organik bisa ditangani dengan lubang biopori atau meng­gu­nakan maggot. Sedangkan sam­pah anorganik bisa dibawa ke bank sampah.

”Kita juga maksimalkan untuk tidak menggunakan plastik, kita kurangi. Kami juga me­wajibkan bahwa 1 RW memiliki bank sampah. Kalau tidak ber­gerak bersama-sama ini susah,” tutupnya. (bud)

Kategori :