”Biopori yang akan dibuat memiliki diameter lebih besar, sekitar 6 hingga 8 centimeter, dan nantinya akan ditempatkan di lingkungan warga. Tentunya tidak di semua rumah karena keterbatasan jumlah. Namun, diharapkan dengan program ini masyarakat dapat mulai memilah sampah dari rumah, antara sampah organik dan nonorganik,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir, Pemkot Tangsel telah menetapkan status tanggap darurat sampah. Hal ini terkait dengan dilakukannya penutupan sementara TPA Cipeucang untuk proses penataan.
”Penataan ini meliputi sistem terasering, pemasangan bronjong, penataan turap, pembangunan jalan beton, serta pembangunan IPAL, agar TPA Cipeucang ke depan menjadi lebih aman, bersih, dan ramah bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Pilar menambahkan, selama bertahun-tahun, masyarakat di sekitar TPA Cipeucang merasakan langsung dampak bau sampah setiap hari, baik pagi, siang, sore, hingga malam.
”Bahkan tetangga saya sering menyampaikan keluhan kepada saya, karena kebetulan saya menjabat sebagai Wakil Wali Kota. Ini menjadi pengingat bagi kami bahwa penataan sampah memang harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan,” tambahnya.
Menurutnya, saat ini investasi untuk penataan sudah tersedia, namun proses pembangunannya tentu membutuhkan waktu, bisa dua hingga tiga tahun. Selain itu, Pemkot Tangsel juga sedang mempersiapkan pembangunan Material Recovery Facility (MRF) sebagai tempat pemilahan sampah berbasis teknologi.
Termasuk proses penyiapan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). ”Insya allah pembangunan MRF ini akan mulai dilakukan tahun ini, meskipun pelaksanaannya tetap membutuhkan waktu sekitar 6 bulan,” terangnya.
Sedangkan produksi sampah setiap hari terus berjalan. Oleh karenanya, jangka pendek dan menengah Pemkot Tangsel menjalin kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengolahan sampah.
”Saat ini fokus kita bagaimana menyelesaikan persoalan sampah. Ini membutuhkan dukungan dari bapak, ibu semua. Jadi mohon terkait sampah ini kita serius dikurangi dari tingkat hulu,” ujarnya.
Menurutnya, untuk mengatasi sampah bisa dimulai dari langkah-langkah di rumah dengan pilah sampah. Untuk sampah organik bisa ditangani dengan lubang biopori atau menggunakan maggot. Sedangkan sampah anorganik bisa dibawa ke bank sampah.
”Kita juga maksimalkan untuk tidak menggunakan plastik, kita kurangi. Kami juga mewajibkan bahwa 1 RW memiliki bank sampah. Kalau tidak bergerak bersama-sama ini susah,” tutupnya. (bud)