Banten Bidik Pertumbuhan Ekonomi Lewat Geothermal
Kepala ESDM Provinsi Banten, Ari James Farrady saat diwawancarai awak media, belum lama ini. (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan potensi energi panas bumi (geothermal). Sebab, tak hanya mengejar target energi bersih, langkah strategis ini diproyeksikan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Banten, Budi Santoso mengatakan saat ini pihaknya membangun sinergi dengan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGI). Langkah ini diperkuat untuk mempercepat pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di daerah.
"Kita juga turun mengikuti kegiatan dari INAGI," katanya, Kamis (20/8).
Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, Ari James Faraddy menjelaskan bahwa percepatan transisi energi merupakan langkah krusial di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memicu ancaman krisis rantai pasok energi fosil.
"Oleh karena itu, percepatan transisi menuju energi bersih perlu terus didorong melalui sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah," ujarnya.
Dalam pertemuan dengan INAGI dibahas arah kebijakan dan target pengembangan energi baru terbarukan (EBT), termasuk komitmen menuju Net Zero Emission pada 2050-2060 serta target EBT dalam RUPTL 2025-2035 yang mencapai 70-75 persen.
Selain itu, kata Ari, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 GW dan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW menjadi bagian dari arah pengembangan energi terbarukan nasional.
"Potensi panas bumi Indonesia luar biasa besar, mencapai 27–30 GW dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Namun, pemanfaatannya saat ini baru sekitar 2,2 persen," terang Ari.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dibahas sejumlah terobosan regulasi seperti penerapan sistem lelang satu tahap, penyederhanaan perizinan, hingga pemberian insentif perpajakan bagi para investor.
Pemprov Banten juga pengembangan panas bumi tidak sekadar diarahkan untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan juga dapat dikembangkan untuk menciptakan efek perekonomian masyarakat.
Pemanfaatan tersebut antara lain dapat mendukung proses pengeringan komoditas pertanian seperti kopi, pengembangan industri petrokimia, hingga pemanfaatan kandungan mineral ikutan seperti silika.
"Geothermal tidak sekadar penyedia daya listrik, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, serta memberikan dampak ekonomi langsung pada sektor lokal," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dibahas perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia yang telah mencapai satu abad sejak 1926. Momentum tersebut menjadi bagian dari peringatan 100 tahun panas bumi Indonesia yang ditandai dengan berbagai agenda, termasuk penandatanganan pencapaian proyek panas bumi.
Pemprov Banten mendukung pengembangan wilayah kerja panas bumi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi sekaligus mendukung transisi energi nasional. Dukungan tersebut antara lain diwujudkan melalui penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di wilayah Banten, seperti WKP Kaldera Danau Banten/Rawa Danau dan WKP Gunung Endut.
Sumber:


