Mahasiswa Tagih Janji Gubernur, Soal Ketimpangan di Banten
Ratusan mahasiswa Untirta melakukan aksi demonstrasi di depan KP3B, Kota Serang, Kamis (26/2). Mahasiswa menuntut Gubernur Banten untuk menyelesaikan segudang persoalan ketimpangan di Banten. (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Ratusan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melakukan aksi demonstrasi di depan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Kamis (26/2).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut Gubernur Banten untuk menyelesaikan segudang permasalahan khususnya isu ketimpangan yang ada di Banten.
Presiden Mahasiswa (Presma) Untirta, M Ridham, mengatakan berdasarkan kajiannya wilayah Tangerang khususnya Tangerang Selatan (Tangsel) masih mendominasi ekonomi, sementara wilayah Selatan dan bahkan Kota Serang sebagai ibu kota provinsi masih tertinggal dalam hal infrastruktur, akses jalan, hingga pelayanan publik.
"Lagi-lagi kan akhirnya disparitas wilayah Utara-Selatan menjadi dominasi isu yang wajib disoroti. Bagaimana akhirnya ke depannya gerak daripada masyarakat di bidang ekonomi dan juga hak-hak masyarakat dalam kehidupannya harus layak. Tidak adanya ekonomi yang tumpang tindih secara aspek, secara akses, baik itu pelayanan publik, baik itu hak-hak sosial yang lainnya," katanya kepada awak media.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menegaskan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) dan megaproyek di berbagai wilayah Banten harus segera dievaluasi. Mereka menilai proyek-proyek ini sering kali menjadi instrumen perampasan ruang hidup masyarakat lokal.
"Anggaran besar diserap, ekosistem rusak, namun ruang demokrasi justru menyempit dan hak sipil dikorbankan," ungkapnya.
Dalam akses pendidikan, kata Ridham pendidikan di Banten menghadapi paradoks. Di satu sisi, pendidikan gratis dijanjikan, namun di sisi lain akses, kualitas, dan kesejahteraan tenaga pendidik masih timpang. Guru honorer kehilangan status dan hak gaji, sementara pemerataan pendidikan belum terwujud.
"Dalam perspektif human capital theory, pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Namun, tanpa kesejahteraan tenaga pendidik, kualitas pendidikan tidak akan meningkat. Hal ini menunjukkan kegagalan negara dalam memenuhi hak dasar warga negara dan memperdalam disparitas antar wilayah," jelasnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyampaikan 12 poin tuntutan kepada pemerintah, di antaranya pertama, evaluasi transparan seluruh proyek strategis di Banten. Kedua, reforma agraria sejati dan perlindungan hak masyarakat adat.
Kemudian, ketiga peningkatan kesejahteraan guru honorer dan kualitas pendidikan. Keempat lemerataan pembangunan infrastruktur hingga ke wilayah pelosok, dan Kelima jaminan kebebasan pers dan perlindungan hak sipil.
"Gerakan ini bukan sekadar daftar tuntutan, melainkan platform politik rakyat yang lahir dari kajian akademis lintas fakultas (FISIP, Faperta, dan Hukum) untuk melawan ketimpangan struktural di tanah jawara," tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan aspirasi yang disampaikan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pembenahan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas layanan publik, transparansi tata kelola pemerintahan, hingga isu lingkungan dan kebencanaan.
"Banyak masukan yang disampaikan mahasiswa dan semuanya kami catat sebagai bahan evaluasi. Ini menjadi bagian penting untuk memperbaiki kebijakan ke depan," katanya.
Ia mengaku, Pemprov Banten memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Kritik dan masukan yang disampaikan dinilai sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat serta arah pembangunan Banten.
Sumber:

