BJB FEBRUARI 2026

SDN Sarakan III: Rukun Sama Teman untuk Kebersamaan dan Cegah Bullying

SDN Sarakan III: Rukun Sama Teman untuk Kebersamaan dan Cegah Bullying

BERNYANYI: Siswa SDN Sarakan III, saat menyanyikan sambil praktik lagu Rukun Sama Teman cipta Mendikasmen Abdul Mutt’i sebagai lagi untuk mencegah Bullying.(Randy/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — SDN Sarakan III, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, mulai mela­kukan sosialisasi penerapan lagu “Rukun Sama Teman” ciptaan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Lagu tersebut diwajibkan untuk dinyanyikan oleh seluruh siswa sebagai bagian dari penguatan karakter serta upaya menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan bebas dari pe­rundungan (bullying).

Sosialisasi dilakukan secara bertahap ke­pada seluruh siswa, mulai dari kelas rendah hingga kelas tinggi. Lagu “Rukun Sama Te­man” kini menjadi bagian dari kegiatan rutin sekolah, dinyanyikan bersama sebelum pembelajaran dimulai maupun dalam ke­giatan apel pagi. Pihak sekolah menilai, lirik lagu tersebut sarat pesan moral yang relevan dengan pembentukan karakter pe­serta didik di tingkat sekolah dasar.

Kepala SDN Sarakan III Engkur Kurnia mengatakan, penerapan lagu tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan langkah kon­kret dalam membangun budaya sekolah yang penuh kebersamaan.

“Lagu ‘Rukun Sama Teman’ ini memiliki makna yang sangat dalam. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya saling menghargai, tolong-menolong, tidak saling mengejek, dan menjaga persahabatan. Kami ingin nilai-nilai itu benar-benar tertanam dalam diri anak-anak sejak dini,” ujar Engkur Kurnia saat ditemui di ruang kerjanya oleh Tangerang Ekspres, Kamis (12/2).

Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter siswa, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga sikap dan perilaku sehari-hari. Ia me­negaskan, kasus perundungan di lingkungan sekolah harus dicegah melalui berbagai pendekatan, salah satunya lewat media yang dekat dengan dunia anak-anak seperti lagu.

“Kami melihat lagu ini sebagai sarana edukasi yang efektif. Anak-anak pada dasarnya senang bernyanyi. Ketika pesan-pesan tentang kerukunan dikemas dalam bentuk lagu yang mudah diingat, maka nilai tersebut akan lebih mudah melekat dalam ingatan mereka. Ini adalah cara sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar,” jelasnya.

Engkur menambahkan, kewajiban menyanyikan lagu tersebut juga menjadi pengingat harian bagi siswa agar selalu menjaga sikap dalam berinteraksi dengan teman. Ia berharap, dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, akan terbentuk karakter siswa yang saling menghormati dan menjunjung tinggi persaudaraan.

“Setiap pagi kami ingin anak-anak datang ke sekolah dengan perasaan senang dan aman. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa tertekan. Dengan menyanyikan lagu ‘Rukun Sama Teman’, kami ingin membangun suasana positif sejak awal hari. Anak-anak diingatkan bahwa mereka adalah satu keluarga besar di sekolah ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Engkur menyampaikan bahwa lagu tersebut juga mengandung banyak makna yang dapat diteladani siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

“Pesan dalam lagu ini tidak hanya berlaku di sekolah, tetapi juga di rumah dan di masyarakat. Anak-anak diajarkan untuk menghargai perbedaan, tidak membeda-bedakan teman, serta mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang baik. Ini adalah bekal penting untuk masa depan mereka,” katanya.

Pihak sekolah juga melibatkan guru-guru dalam memberikan pemahaman lebih mendalam terkait makna lirik lagu tersebut. Tidak hanya dinyanyikan, namun juga dibahas dalam kegiatan pembelajaran dan penguatan pendidikan karakter.

“Kami instruksikan kepada seluruh guru untuk menjelaskan makna setiap bait lagu agar siswa benar-benar memahami, bukan sekadar hafal. Ketika anak memahami arti kerukunan, maka mereka akan lebih sadar dalam bersikap. Pencegahan bullying tidak cukup dengan aturan, tetapi harus dibangun dari kesadaran diri,” tegas Engkur.

Ia berharap, melalui sosialisasi dan penerapan lagu “Rukun Sama Teman” secara konsisten, SDN Sarakan III dapat menjadi contoh sekolah yang mengedepankan nilai persatuan dan kebersamaan.

“Harapan kami, anak-anak SDN Sarakan III tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik, saling menghormati, dan mampu hidup berdampingan secara damai. Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dan bertumbuh. Kerukunan adalah kunci utama untuk mewujudkan itu semua,” tutupnya.(ran)

Sumber: