Pemkot Tangsel Target 108 Ribu Lubang Biopori, Atasi Persoalan Sampah
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie (tiga kiri) memimpin rapat Forkopimda di Hotel Ramada Serpong, Selasa 10 Februari 2026. -Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Pemkot Tangsel menargetkan membuat 108 ribu lubang biopori. Program ini dilakukan sebagai upaya menangani persoalan sampah.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, mengatakan pihaknya sudah memberikan instruksi kepada seluruh jajaran sesuai arahan Presiden dan Gubernur terkait penanganan sampah di wilayahnya.
“Nanti akan ada gerakan bersama, gerakan kebersihan bersama. Hari Jumat besok menjelang puasa, kita lakukan kerja bakti atau gerakan kebersihan lagi,” ujarnya seusai memimpin rapat koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) di Hotel Ramada, Serpong, Selasa (10/2).
Pria yang biasa disapa Pak Ben ini menambahkan, pihaknya juga mengantisipasi persoalan sampah melalui program pembuatan lubang biopori. Targetnya, setiap kelurahan memiliki 1.000 rumah yang membuat lubang biopori.
“Artinya kalau satu rumah membuat dua lubang biopori, maka akan ada sekitar 108.000 lubang biopori di Kota Tangsel. Kalau satu lubang biopori bisa memusnahkan sampah organik tiga kilogram, maka tinggal kita hitung, sehingga terukur produktivitas biopori ini dalam mengurangi sampah organik,” jelasnya.
Menurutnya, untuk sampah pihaknya mengandalkan penguatan bank sampah. Targetnya setiap RW memiliki bank sampah. “Di Tangsel ada lebih dari 740 RW. Saat ini jumlah bank sampah belum sampai 700, dan yang aktif pun baru sekitar 50 persen. Ini akan kita aktivasi kembali,” jelasnya.
Selain itu, TPS 3R juga akan direvitalisasi karena berfungsi sebagai tempat transit sampah dari rumah tangga sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Alhamdulillah kerja sama dengan Kota Serang, Kabupaten Bogor, dan Provinsi Jawa Barat saat ini berjalan normal dan lancar. Ini sangat membantu penanganan dan pemrosesan sampah di Kota Tangsel,” tambahnya.
Terkait pengiriman sampah keluar daerah, Pak Ben menyebut pengiriman ke TPA Cilowong, Kota Serang mencapai sekitar 150 sampai 180 ton per hari. Sementara ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo, Kabupaten Bogor masih sekitar 20 sampai 30 ton per hari.
“Sedangkan ke PT Aspex Kumbong di Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor mencapai sekitar 100 ton. Secara keseluruhan relatif persoalan sudah hampir selesai, hanya masih menunggu penataan akses jalan dan kesiapan lokasi tujuan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan berharap, semua kalangan melakulan penanganan sampah dan dilakukan lebih masif lagi. Salah satunya dengan membentuk bank sampah sebagai garda terdepan percepatan penanganan sampah.
”Pengelolaan sampah di Kota Tangsel dapat berjalan dari hulu ke hilir, salah satunya melalui bank sampah. Termasuk melalui penguatan TPS 3R dan program-program lainnya,” ujarnya.
Pilar mengaku, pada Agustus atau September mendatang akan dibangun Material Recovery Facility (MRF) dengan teknologi pemilahan sampah di wilayahnya. ”Dengan MRF ini artinya sampah yang masih dapat diolah akan diproses, sementara yang tidak dapat diolah akan ditindaklanjuti melalui skema kerja sama lanjutan, termasuk dengan daerah lain,” tambahnya. (bud)
Sumber:

