BJB NOVEMBER 2025

Pasca-Banjir, Warga Diminta Waspada DBD

Pasca-Banjir, Warga Diminta Waspada DBD

Petugas Puskesmas Poris Gaga Lama melakukan kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE) secara door to door di wilayah binaannya.-Abdul Aziz Muslim/Tangerang Ekspres -

TANGERANG EKSPRES.ID, TANGERANG — Pasca-banjir melanda sejumlah titik di Kota Tangerang, masyarakat di­minta mewaspadai berbagai penyakit lingkungan. Teru­tama, penyakit Demam Ber­darah Dengue (DBB).

Kepala Dinas Kesehatan Ko­ta Tangerang, dr Dini Ang­graeni menyampaikan, pasca-banjir di beberapa wilayah di Kota Tangerang, namun hujan dengan intensitas se­dang masih kerap mengguyur. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai adalah penyakit lingkungan, terutama penyakit DBD yqng sebarannya dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Genangan air berpotensi men­jadi tempat berkembang biak nyamuk tersebut.

Oleh karena itu, kata dr Dini, masyarakat diimbau mela­kukan langkah antisipasi se­dini mungkin agar tidak terjadi lonjakan kasus sebaran pe­nyakit demam berdarah yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti. 

Kewaspadaan ini tidak hanya ditujukan bagi warga yang pemukimannya sempat teren­dam banjir, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Kota Ta­ngerang.

”Kami mengimbau seluruh warga, baik yang terdampak banjir maupun tidak, untuk kembali menggiatkan kerja bakti di lingkungan masing-masing. Siklus hidup nyamuk meningkat di cuaca yang tidak menentu seperti sekarang,” ujar dr Dini, Kamis, 29 Januari 2026.

 Dia menekankan, bahwa pencegahan yang paling efektif adalah melalui Pemberantasan Sa­rang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus (Menguras, Me­nutup, dan Mendaur ulang barang bekas).

 Masyarakat diminta untuk menyisir setiap sudut rumah dan lingkungan yang berpo­tensi menampung air, salah satunya  barang bekas di ha­laman rumah.

Dini juga menyampaikan,  penyemprotan asap atau fog­ging sebagai langkah yang hanya bersifat membunuh nyamuk dewasa dan tidak me­matikan jentik. Ia menekan­kan agar warga memastikan ling­kungan sudah dalam ke­adaan bersih terlebih dahulu melalui kerja bakti.

 ”Jika lingkungan sudah di­pastikan bersih melalui kerja bakti namun masih ditemukan indikasi penyebaran, warga dapat mengajukan permo­honan fogging melalui Puskes­mas setempat atau kelurahan. Namun ingat, fogging baru efektif jika sumber sarang nya­muknya (jentik) sudah di­basmi terlebih dahulu mela­lui PSN,” ujarnya.

Dini menambahkan, pihak­nya terus memantau perkem­bangan kesehatan masyarakat di posko-posko kesehatan dan Puskesmas guna me­mas­tikan penanganan cepat jika terdapat warga yang menga­lami gejala demam tinggi atau tanda-tanda DBD lainnya.

Sementara itu, Puskesmas Poris Gaga Lama, Kecamatan Batuceper, melaksanakan ke­­giatan Penyelidikan Epide­miologi (PE) secara door to door di wilayah binaannya, belum lama ini.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas dite­mukannya kasus DBD di tengah lingkungan masyarakat tersebut.

Selain itu kegiatan tersebut sebagai langkah deteksi dini untuk memutus rantai penu­laran penyakit, khususnya pa­da musim penghujan yang berpotensi meningkatkan po­­pu­lasi nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Puskesmas Poris Ga­ga Lama drg. Apriliana men­jelaskan, tim Puskesmas Poris Gaga Lama turun lang­sung ke rumah warga untuk melakukan pengumpulan da­ta, wawancara riwayat kese­hatan, pemantauan kondisi lingkungan, serta pemeriksaan keberadaan jentik nyamuk.

Sumber: