Warga Naik Gedebog Pisang saat Jalan di Desa Jambu Karya Terendam Banjir

Warga Naik Gedebog Pisang saat Jalan di Desa Jambu Karya Terendam Banjir

Warga naik gedebog pisang saat melintasi banjir di jalan penghubung antara Kampung Jambu dengan Kampung Pabuaran di Desa Jambu Karya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten. -Tangkapan layar video kiriman warga-

TANGERANGEKSPRES.ID - Sejumlah warga naik gedebog (batang pohon) pisang saat melintasi jalan penghubung antara Kampung Jambu dengan Kampung Pabuaran di Desa Jambu Karya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, terendam banjir akibat luapan anak Sungai Cimanceuri.

Dilihat dari video berdurasi 49 detik yang diterima Tangerang Ekepres, Minggu (28/4/2024) malam, tampak seorang laki-laki, dua perempuan dan satu anak-anak naik gedebog pisang untuk melintasi jalan yang diterjang banjir di alamat tersebut. Di sisi-sisinya, sejumlah pria mendorong gedebog pisang.

"Naik gembog (gedebog pisang) kita nih, aduh," ucap seorang perempuan yang menumpang gedebog pisang.

Pantauan wartawan di lokasi Senin (29/4/2024) pagi, banjir masih merendam jalan penghubung antara Kampung Jambu dengan Kampung Pabuaran di Desa Jambu Karya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten.

Saepul, warga Kampung Jambu Karya, RT 05 RW 01, Desa Jambu Karya, menuturkan air belum kunjung surut sejak Minggu dini hari. Sebelumnya lagi, hal serupa pun telah terjadi pada 21 sampai 24 April 2024 lalu.

"Tapi, yang banjir sejak Minggu, 28 April ini, lebih parah. Terdalam. Mencapai sebahu orang dewasa," ungkapnya.

Saepul mengatakan, ia bersama rekan-rekannya menyediakan gedebog pisang untuk pengguna jalan yang ingin melintas. Ia bersama rekan-rekannya tidak menarif jasa untuk melintasi jalan yang banjir dengan menggunakan gedebog pisang.

"Seikhlasnya saja," imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Jambu Karya, Suherman mengatakan, pemerintah desa (pemdes) sudah mengusulkan pembuatan Tembok Penahan Tanah (TPT) berikut pengurukan tanah untuk peninggian jalan tersebut.

"Tapi, usulan yang sering diusulkan setiap tahun itu, belum terealisasi sampai sekarang. Itu jalan kewenangan milik Pemkab Tangerang," ujarnya dengan nada rendah.

Suherman mengungkapkan, apabila jalan terendam banjir, tentu itu sangat merugikan pengguna jalan. Pertama, pengguna jalan yang tak ingin mengambil risiko, mereka akan milih putar balik sehingga jarak tempuh perjalanan mereka lebih jauh.

"Kedua, tentu juga merugikan pengguna jalan yang berani ambil risiko menerjang banjir. Akibatnya kendaraan mereka jadi mogok," ucapnya.

Ia berharap dibuatkan tembok penahan tanah berikut pengurukan untuk meninggikan jalan di area jalan yang menurun. Setelah itu barulah dilaksanakan pengecoran atau betonisasi jalan.

"Dengan begitu, diharapkan jalan engga kerendam banjir lagi," imbuhnya. (*)

Sumber: