TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Dugaan perundungan terhadap 14 siswi kelas VIII SMPN 10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencuat setelah mereka disebut dipaksa meminum racikan berbagai bahan dalam sebuah permainan yang melibatkan kakak kelas mereka. Peristiwa yang diduga terjadi di sebuah warung kopi (warkop) pada Jumat (16/10/2026) malam itu kini menjadi perhatian pihak sekolah dan kepolisian.
Kasus tersebut terungkap setelah salah satu orang tua siswi mendapati anaknya mengalami sakit perut. Belakangan, ia memperoleh informasi bahwa sejumlah siswi lain juga mengeluhkan gangguan kesehatan setelah mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah tersebut.
Orang tua salah satu siswi berinisial A menuturkan, anaknya semula diajak berkumpul bersama teman-temannya di sebuah warkop. Mereka diminta datang beramai-ramai hingga terkumpul 14 siswi kelas VIII.
“Awal mulanya diajakin main. Tapi enggak boleh cuma dua atau tiga orang, harus ramai-ramai. Akhirnya datanglah 14 orang,” ujarnya kepada wartawan.
Setibanya di lokasi, para siswi disebut diajak bermain sambil mengisap rokok secara bergantian. Siswi yang mendapat giliran ketika abu rokok jatuh harus meminum cairan racikan yang disiapkan kakak kelas mereka.
Menurut keterangan orang tua korban, racikan tersebut terdiri atas kopi Liong, saus, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, air keran, dan cuka.
“Racikannya itu ada kopi Liong, saus, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, air keran, sama cuka. Itu diminumkan ke anak-anak,” katanya.
Dugaan perundungan semakin mengemuka setelah para siswi disebut tidak diperbolehkan meninggalkan lokasi sebelum pukul 22.00 WIB. Bahkan, siswi yang berusaha pulang lebih awal diduga dipaksa menghabiskan setengah botol racikan tersebut.
Orang tua A mengaku anaknya masih mengalami sakit perut hingga belum dapat kembali bersekolah. Ia juga menerima informasi bahwa ada korban lain yang disebut mengalami muntah darah. Namun, informasi tersebut belum terkonfirmasi secara independen.
“Anak saya sampai hari ini tidak masuk sekolah karena masih sering sakit perut. Kalau teman-temannya yang lain ada yang sampai muntah darah,” ungkapnya.
Berdasarkan penuturan anaknya, kegiatan tersebut diduga dikoordinasikan tiga siswi kelas IX. Para korban disebut tidak berani menceritakan kejadian itu kepada orang tua karena khawatir kembali menjadi sasaran perundungan.
“Anak-anak enggak ada yang berani ngomong karena diancam. Kalau sampai cerita ke orang tua, katanya bakal dikasih (dibully) lagi,” tuturnya.
Tak hanya mengkhawatirkan kondisi anaknya, A mengaku mendapat intimidasi dari keluarga salah satu siswi yang diduga terlibat ketika berusaha meminta penjelasan. Ia menyatakan ingin persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum apabila diperlukan.
“Saya sempat didatangi dan diancam sama keluarga terduga pelaku saat menanyakan kejelasannya. Tapi saya tegaskan, kalau mau diselesaikan, kita pakai jalur hukum,” tegasnya.
Kepala SMPN 10 Kota Tangsel Kunardi membenarkan adanya kegiatan yang melibatkan 13 siswi kelas IX dan 14 siswi kelas VIII. Namun, ia menegaskan peristiwa itu berlangsung di luar jam dan lingkungan sekolah.