TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Musim kemarau mulai mengetuk kewaspadaan warga Kota Tangerang. Wali Kota Tangerang Sachrudin meminta masyarakat menghemat air sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran.
Pesan itu disampaikan Sachrudin saat memimpin apel kewilayahan di Kecamatan Benda, Senin (21/9). Ia menegaskan, kemarau bukan sekadar soal berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran yang membutuhkan pencegahan bersama.
“Bukan hanya persoalan kurang air, tapi bagaimana kita menghindari musibah kebakaran. Ini perlu kesadaran masyarakat dan saling menjaga,” kata Sachrudin.
Ia meminta aparatur tidak berhenti pada urusan administrasi. ASN di tingkat kewilayahan harus aktif mengawasi kondisi masyarakat dan memastikan persoalan di lapangan ditangani sejak dini.
Pemkot Tangerang, kata Sachrudin, juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan kementerian terkait untuk menghadapi dampak kekeringan, termasuk penanganan sungai dan drainase. Komunikasi dengan Kementerian PUPR juga dilakukan terkait kemungkinan modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan curah hujan.
Untuk kondisi Sungai Cisadane, Sachrudin menyebut debit air mulai meningkat setelah hujan mengguyur wilayah Bogor. Sungai tersebut tetap dipantau karena menjadi salah satu sumber air penting bagi Kota Tangerang.
“Yang kita jaga adalah Sungai Cisadane, karena ini sumber kehidupan masyarakat Kota Tangerang. Air minum bersumber dari sana. Kondisi terakhir masih aman,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang meningkatkan kesiapsiagaan setelah tiga kecamatan masuk status siaga dan dua kecamatan lainnya berstatus awas dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Tiga wilayah berstatus siaga adalah Batuceper, Cipondoh, dan Karang Tengah. Sedangkan Benda dan Tangerang masuk kategori awas. Kecamatan Benda dan Karang Tengah dinilai menjadi wilayah yang cukup rawan terdampak, sementara laporan kesulitan air mulai muncul dari Kecamatan Pinang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar mengatakan, laporan warga di Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, menjadi salah satu perhatian terbaru. Wilayah tersebut belum terjangkau jaringan PDAM sehingga warga mengandalkan sumur pompa listrik.
Masalahnya, hampir sebulan terakhir air dari sumur hanya keluar sekitar pukul 00.00 hingga 02.00 WIB dengan debit terbatas.“Yang sudah mulai muncul itu dari Kecamatan Pinang di Kunciran Jaya,” kata Mahdiar, Senin (21/9).
BPBD bersama PMI, Baznas, Tagana, FKDM, PSM, kelurahan, dan aparat setempat mulai memasok air bersih ke wilayah terdampak. Hingga September 2026, sedikitnya 17.000 liter air bersih telah didistribusikan.
Bantuan terkonsentrasi di Kecamatan Pinang, terutama Kelurahan Kunciran Jaya dan Cipete. Di Kunciran Jaya, distribusi dilakukan sejak 18 September sebanyak 5.000 liter, dilanjutkan 2.000 liter pada 19 September dan 7.000 liter pada 20 September. Sementara Kelurahan Cipete mendapat 3.000 liter.
Mahdiar mengatakan, distribusi dilakukan berdasarkan laporan warga dan hasil verifikasi lapangan. Setiap pengiriman rata-rata mencapai 5.000 liter.“Kalau hari pertama kita dropping 5.000 liter. Hari kedua sama, tiap hari kurang lebih 5.000 liter,” ujarnya.
BPBD juga menerima permintaan bantuan dari RT 04/RW 03, Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda. Gangguan jaringan PDAM di wilayah tersebut berdampak terhadap kebutuhan air sekitar 300 jiwa.